RMco.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini nilai tukar rupiah kembali dibuka pada level Rp 14.699 per dolar AS. Angka itu menguat sekitar 0,07 persen dibanding dengan perdagangan kemarin di level Rp 14.710 per dolar AS.

Menguatnya rupiah juga diikuti oleh beberapa mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan menguat 0,1 persen, baht Thailand menguat 0,08 persen dan ringgit Malaysia juga naik 0,04 persen. Sementara yen Jepang melemah 0,04 persen, dolar Singapura juga turun terhadap dolar AS.

Berita Terkait : Jelang Rilis Data BPS, Rupiah Jadi Mata Uang Terkuat

Pergerakan indeks dolar AS hari ini terhadap mata uang utama turun 0,19 persen berada di level 93,64. Sementara nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing lainnya seperti euro mengalami penguatan sebesar 0,16 persen di level Rp 17.242, terhadap dolar Australia naik 0,20 persen di level Rp 10.460, serta terhadap yuan China juga menguat 0,32 persen di angka Rp 2.174.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, sentimen utama penguatan rupiah datang dari sinyal penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap paket stimulus ekonomi tahap II. "Sentimen positif ini mendorong pelemahan dolar AS. Sementara rupiah masih berpotensi menguat," sebutnya dalam riset, Kamis (8/10).

Berita Terkait : Trump Dimakzulkan DPR AS Dua Kali, Senat Belum Merestui

Namun ia melihat, penguatan rupiah bisa terbatas karena pelaku pasar tetap mewaspadai dinamika seputar stimulus ini. Selain itu, pelaku pasar keuangan di dalam negeri juga mewaspadai gejolak reaksi terhadap pengesahan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (RUU Ciptaker) menjadi UU ini.

"Rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp 14.650 sampai Rp 14.800 per dolar AS dengan kecenderungan menguat pada hari ini," ucapnya. [DWI]