RMco.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka menguat hingga 0,22 persen ke level Rp 14.685 per dolar AS, dibandingkan perdagangan pada Rabu (14/10) sore di level Rp 14.717 per dolar AS di pasar spot.

Menguatnya rupiah diikuti mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,07 persen, peso Filipina naik 0,11 persen, rupee India melonjak 0,06 persen, ringgit Malaysia naik 0,02 persen, dan dolar Taiwan 0,16 persen.

Baca Juga : Positif Covid-19, Ketua KPU Sumsel Meninggal Dunia

Sementara itu, indeks dolar AS juga menguat tipis 0,02 persen ke level 93,405. Nilai tukar rupiah terhadap euro menguat sebesar 0,60 persen di level Rp 17.229, terhadap yuan China naik 0,73 persen di posisi Rp 2.185.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo, Ariston Tjendra mengatakan, sepanjang hari ini rupiah diprediksi tertekan terhadap dolar AS. Hal ini lantaran respon negatif pasar terhadap pernyataan Kementerian Keuangan AS terkait paket stimulus AS.

Baca Juga : Loyo Diawal, Praveen/Melati Harus Puas Jadi Runner-Up Di Thailand Open

Menurutnya, isu stlimulus AS mungkin akan memberikan tekanan untuk rupiah setelah Kementerian Keuangan AS menegaskan, bahwa kesepakatan stimulus bakal terjadi setelah pemilu karena banyak perbedaan yang belum disepakati.

"Selain itu, tekanan rupiah juga datang dari dalam negeri. Pasar mewaspadai demo buruh yang akan berlangsung selama sepekan ke depan," cetusnya dalam riset harian, Kamis (15/10). Ia mengatakan, rupiah mungkin akan bergerak dengan kisaran Rp 14.700-Rp 14.750 per dolar AS. [DWI]