RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menyayangkan kebutuhan produk halal di dalam negeri sebagian besar dipenuhi dari impor. Padahal, Indonesia merupakan konsumen produk halal terbesar di dunia.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan pada tahun 2018, Indonesia membelanjakan produk halal sebesar 214 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 3.150 triliun (kurs Rp 14.722). Nilai itu setara dengan 10 persen pangsa produk halal dunia.

Berita Terkait : Selama Pandemi, Transaksi Bukalapak Naik 130 Persen

“Sayang, sebagian besar produk halal yang dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah barang impor. Padahal, pasar produk halal bisa diisi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam pembukaan Program Pelatihan Digitalisasi Pemasaran dan Manajemen Produk Halal bagi UMKM yang disiarkan secara virtual, kemarin.

Tak hanya pasar dalam negeri, Airlangga ingin produk UMKM bisa masuk ke pasar global. apalagi, pemerintah sudah memberikan dukungan melalui regulasi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang isinya mendukung penguatan UMKM.

Berita Terkait : Ini Kota Besar Di Jawa Dan Bali Yang Kena PSBB Ketat

Airlangga menyebutkan, dalam regulasi itu, pemerintah mendorong peningkatkan produksi produk halal, melakukan penyederhanaan pengajuan sertifikasi halal, percepatan proses perizinan, dan keringanan biaya sertifikasi halal.“Semuanya akan dikoordinasikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, sehingga prosesnya tidak lagi berbelit dan makan banyak waktu,” jelasnya.
 Selanjutnya