RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang menilai, harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) saat ini belum mahal. 

Menurut hitungannya, harga wajar saham BRIS setelah merger sekitar Rp 1.900-an per lembar. 

"Jadi kejatuhan saham BRIS saat ini adalah suatu opportunity atau kesempatan untuk melakukan pembelian saham tersebut. Saya optimis kedepannya saham BRIS bisa mencapai minimal Rp 2.800-an," ujarnya. 

Baca Juga : Airlangga : Golkar Setia Dukung Pemerintahan Jokowi-Ma`ruf

Dia mencontohkan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang merupakan bank hasil merger empat bank, yakni Bank Exim, Bank Bumi Daya, Bapindo, dan Bank Dagang Negara pada 1999. 

Saat masuk bursa, mulai mencatatkan sahamnya di bursa efek pada 2003, harga saham hanya Rp 675 per saham. 

"Sekarang, harga saham BMRI sudah mencapai Rp 5.525," jelasnya.

Baca Juga : Banyak Dokter Yang Gugur Dalam Perang Melawan Covid, Bagi Saya Mereka Adalah Pahlawan

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham BRIS terkoreksi menyentuh level auto reject bawang (ARB) selama dua hari perdagangan berturut-turut, dampak dari harga cash offer (penawaran pembelian saham oleh pengendali bagi pemegang saham minoritas yang tidak setuju dengan merger bank syariah BUMN) saham BRIS yang hanya berada di kisaran Rp 781 per saham, pada Kamis (22/10). 

Harga Rp 781 per saham ini sendiri didapatkan dari valuasi harga wajar BRIS oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Suwendho, Rinaldy dan Rekan.

Sementara koreksi yang terjadi sejak awal perdagangan Kamis (22/10) yakni minus 6,81% menyentuh level auto reject bawah (ARB) di level Rp 1.300 per saham. 

Baca Juga : Kini, Bayar Tol Bandara Sampai JORR Bisa Pakai JakCard Bank DKI

Bahkan pada penutupan perdagangan kemarin, antrean saham BRIS yang menanti di level ARB di harga Rp 1.300 per unit sebanyak 1,22 juta lot atau senilai Rp 159 miliar. Adapun jelang penutupan sesi I pada Jumat, saham BRIS minus 3,46 % di level Rp 1.250 per saham. [KAL]