RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kini tengah melakukan investigasi 301 kepada kayu dan produk kayu Vietnam. United States Trade Representative (USTR) tengah melakukan investigasi 301, setelah ada laporan perdagangan kayu ilegal dan manipulasi mata uang yang dilakukan Vietnam.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Muhammad Lutfi mengatakan, ini merupakan kesempatan emas bagi produk kayu Indonesia merambah Paman Sam. "Vietnam sekarang sedang mendapat kesulitan masuk, karena investigasi 301," ujar Dubes Lutfi dalam press briefing virtual Senin malam (2/11).

Baca Juga : Penembakan Brutal di Vienna, Austria Tewaskan 3 Orang, 15 Luka-luka

Investigasi 301 ini merujuk pada bagian 301 dari Undang-Undang Perdagangan (Trade Act) 1947 AS yang mengatakan, bahwa Pemerintah AS memiliki kekuatan secara sepihak untuk memberlakukan sanksi kepada negara lain (asing) yang tidak berdagang secara jujur.

Karena Vietnam kesandung masalah ini, Dubes yang pernah menjadi menteri perdagangan ini melihat kesempatan emas bagi produk kayu Indonesia. "Terhambatnya produk kayu dari Vietnam akan membuka peluang bagi produk serupa dari Indonesia," simpulnya, dalam briefing yang dihadiri puluhan jurnalis Indonesia.

Baca Juga : Hampir 100 Juta Warga AS Sudah Nyoblos Lebih Awal

Lutfi mengabarkan, kalau dia dan tim Kedutaan Besar RI (KBRI) Washington telah membuat program yang akan memfasilitasi importir AS dengan eksportir Indonesia. Hal itu diyakini mempermudah membuka pasar ekspor. "Furnitur kita pasti akan tumbuh hebat sekali," ungkapnya.

Berdasarkan keterangan USTR, Vietnam melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu. USTR menyebut Vietnam telah mengambil sejumlah besar kayu dari Kamboja. Sayangnya, kayu-kayu ini dilaporkan dipanen dari lahan yang dilindungi.

Baca Juga : Bebas Corona, Rossi Siap Tampil Di MotoGP Eropa

"Kini tengah diselidiki. Jadi ada kekosongan pemasok kayu untuk AS. Kita bisa masuk," ujar Lutfi.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan AS, impor furnitur kayu AS dari Vietnam pada 2019 mencapai lebih dari 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 54 triliun. "Kalau kita bisa jual sebanyak itu, pengrajin kayu dan penghasil kayu kita bisa makmur," tegasnya. [DAY]