Masuk Industri 4.0, Perusahaan Tak Butuh Ijazah

Kampus Bekali Mahasiswa Kuasai Teknologi Digital

Masuk Industri 4.0, Perusahaan Tak Butuh Ijazah Kampus Bekali Mahasiswa Kuasai Teknologi Digital
Klik untuk perbesar

 Sebelumnya 
Dia menegaskan, di era industri 4.0 banyak perusahaan yang tidak menjadikan ijazah sebagai syarat utama bekerja. Mereka membutuhkan bukti keterampilan yang dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi. Kemenristekdikti telah menyiapkan sertifikat khusus bagi alumni perguruan tinggi yang telah lulus menjalankan berbagai program pengajaran terbaru. Menurutnya, perusahaan besar seperti Google, Apple, dan IDM tidak lagi mengutamakan ijazah.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, di perguruan tinggi yang lebih ditekankan pada pengetahuan atau gelar sarjana. Maka, yang harus dikejar untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah membuat sekolah talenta digital. “Kemenkominfo membuat akademi digital talent . Pesertanya lulusan SMK, D3, atau S1. Yang penting usianya tidak lebih dari 29 tahun. Tahun ini disiapkan 20.000 peserta. Memang terhitung masih sedikit jika dibandingkan kebutuhan yang mencapai 600.000 digital talent,” jelas Rudiantara.

Baca Juga : Erick Puji Langkah Cepat Telkom Dalam Perlindungan Keselamatan Kerja

Minim Fasilitas

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Krishnamurti menilai, mengoptimalkan pendidikan vokasi membutuhkan kerja sama banyak pihak, seperti pemerintah daerah dan juga industri. Sinergi keduanya diharapkan bisa membuat kurikulum dan pengajaran yang diterapkan tepat sasaran karena sesuai dengan kebutuhan industri. Menuruntnya, pengembangan pendidikan vokasi juga masih menemui banyak hambatan.

Baca Juga : Bamsoet Harap Puteri Indonesia Jadi Duta Empat Pilar MPR

Di antaranya, kurangnya fasilitas penunjang, tempat praktek dan juga laboratorium. “Kurangnya fasilitas ini menyebabkan para siswa yang menempuh pendidikan vokasi, tidak memiliki cukup sarana untuk mengembangkan keahliannya dan sulit mengikuti perkembangan industri,” ungkap Indra kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Idealnya, kata dia, SMK memiliki laboratorium yang dilengkapi dengan alat/teknologi terbaru untuk memudahkan mereka melakukan workshop. Workshop sangat membantu mereka untuk bisa mempraktekkan keilmuannya agar bisa digunakan di dunia pekerjaan nantinya.

Baca Juga : Merapi Meletus, Penerbangan di Solo Dialihkan Wilayah Tak Terdampak

“Pemerintah jangan sampai lupa mengurusi demand industri yang saat ini ada dan masih belum terpenuhi. BPS mencatat, mayoritas dari total pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia merupakan lulusan SMK. Hal ini menandakan bahwa lulusan SMK tidak terserap dengan baik ke industri,” jelas Indra. Untuk itu, penyiapan sarana dan kelengkapan SMK penting dilakukan.  (JAR)