RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berencana menerbitkan Mandatory Convertible Bond (MCB) atau Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp 8,5 triliun.

Dana itu rencananya digunakan untuk menjaga keberlangsungan hidup perusahaan.

Restu itu diberikan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar biasa (RUPSLb), kemarin.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menjelaskan, pemegang saham menyetujui agar perseroan menerbitkan obligasi dengan tenor maksimum tujuh tahun.

“Ini wajib dikonversi menjadi saham baru begitu jatuh tempo,” ujar irfan di Jakarta, kemarin.

Dengan mengantongi restu, lanjut Irfan, pihaknya akan segera berbicara dengan pelaksana investasi dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yaitu PT Sarana Multi infrastruktur (Persero).

“Kami berharap (MCB) ini bisa cepat diselesaikan sebelum akhir tahun ini,” harapnya.

Berita Terkait : Sembilan Ruas Tol Baru Senilai Rp 142 Triliun Siap Dilelang

Irfan memaparkan, dana tersebut rencananya akan digunakan untuk mendukung liabilitas dan solvabilitas keuangan perseroan di tahun mendatang.

Dengan begitu, keberlangsungan hidup perusahaan tetap terjaga, tanpa harus melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Kami berharap, obligasi ini bisa mendorong perusahaan lebih cepat pulih,” ucapnya.

Seperti diketahui, kinerja perusahaan pada Kuartal III 2020 mengalami kerugian sebesar 1,07 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau minus Rp 15,21 triliun.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan pencapaian periode sama tahun sebelumnya, yang mampu meraup laba bersih hingga 122,42 juta dolar AS (setara Rp 1,7 triliun).

Secara total, pendapatan Garuda indonesia mencapai 1,13 miliar dolar AS per September 2020 atau Rp 16,98 triliun.

Turun dari 3,54 miliar dolar aS (Rp 50,2 triliun) pada kuartal sama tahun sebelumnya.

Pengamat Penerbangan, Alvien Lie mengimbau, agar Garuda memanfaatkan dana tersebut secara proporsional.

Baca Juga : Perpanjang SIM Di Jakarta, Hari Ini Hanya Sampai Pukul 12 Siang

“Kalau kita lihat ukuran bisnisnya Garuda, dana Rp 8,5 triliun ini nggak besar besar amat. jadi harus dilihat, utangnya berapa? biaya operasional berapa? Harus berimbang penggunaannya,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Dia mengapresiasi langkah pemerintah yang memberikan dana talangan dengan skema MBC tersebut.

Diharapkannya, pemerintah bisa segera melakukan pencairan dana tersebut. “Jangan sampai pencairannya harus menunggu berbulan bulan. Malah nanti tidak ada manfaatnya. Utang Garuda kan banyak yang tertunda pembayarannya. Lessor (perusahaan leasing) punya batas waktunya,” jelasnya.

Ia khawatir, pencairan dana talangan yang terlalu lama, akan semakin menganggu masa pemulihan perusahaan.

Alvin Lie juga menyarankan, manajemen Garuda mengkaji kembali strategi pemasarannya, guna menarik minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara.

Misalnya, dari segi besaran tarif. Saat ini, tiket Garuda yang paling mahal di Indonesia. Nilainya, bisa mencapai dua kali lipat lebih mahal dibandingkan maskapai lain.

“Boleh sih lebih mahal, tapi apa perlu harga tiket setinggi itu? Misal, rute yang sama, batik air Rp 500 ribu, Garuda Rp 1 juta. ini yang perlu ditinjau ulang,” imbaunya.

Baca Juga : Bawaslu Surabaya Garap Penyalahgunaan Bansos

Copot Satu Direktur

Selain restu penerbitan obligasi, RUPSL menyetujui penun¬jukkan Prasetio, mantan Direktur Utama Perum Peruri, sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda indonesia.

Ia menggantikan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko sebelumnya Fuad Rizal.

“Saya apresiasi kontribusi dan kerja keras yang dilakukan Pak Fuad. Selama ini kami sudah jadi bagian dari satu tim,” kata Irfan.

Ia berharap Prasetio bisa me neruskan kinerja baik, dan mem percepat beberapa rencana restrukturisasi, negosiasi hingga pengelolaan keuangan yang lebih baik di tubuh Garuda. Apalagi, sambungnya, Prasetio memiliki segudang pengalaman karena pernah menjabat sebagai bankir, memimpin Peruri, serta pernah menjadi direktur Telkom.

“Dengan network dia yang luas, tentu kami harap pergantian direksi ini bisa meneruskan apa yang dilakukan Pak Fuad,” tutupnya. [IMA]