RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau operasional Sub Tower Apron Movement Control (AMC) yang ada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Sabtu (21/11). Sub Tower AMC merupakan pusat pemantauan dan pengendalian pergerakan/lalu lintas di apron Terminal 3. Apron dapat diartikan sebagai area sisi udara yang bersebelahan dengan terminal penumpang, yang pesawat dapat diparkir untuk menaikkan/menurunkan penumpang, memuat/menurunkan kargo, mengisi bahan bakar, dan sebagainya. 

Sub Tower AMC di Terminal 3 adalah satu-satunya yang di Indonesia. Sub Tower AMC dioperasikan sejak 2016, sejalan dengan lalu lintas penerbangan yang cukup tinggi di Bandara Soekarno-Hatta dan untuk mendukung Tower Bandara Soekarno-Hatta yang dioperasikan AirNav Indonesia. 

Budi Karya mengingatkan agar personel di Sub Tower AMC tetap siaga dan fokus dalam melakukan manajemen lalu lintas di apron. Agar keseluruhan operasional Bandara Soekarno-Hatta dapat selalu berjalan aman dan lancar. 

Berita Terkait : PT Angkasa Pura II Pimpin Pasar ASEAN

PT Angkasa Pura II (AP II) juga selalu meningkatkan kapabilitas sistem operasi dari Sub Tower AMC Terminal 3. Pada tahun ini, telah dilakukan digitalisasi terhadap Flight Progress Strip (FPS), sejalan dengan pengembangan aspek Infrastructure and Operation System dalam Transformation 2.0 yang dijalankan perseroan pada 2020-2024. FPS merupakan data rencana penerbangan yang digunakan personel Sub Tower AMC sebagai dasar memandu pesawat di movement area. 

“Sebelumnya, data-data FPS ditulis di atas kertas alias manual. Pada tahun ini, telah dilakukan digitalisasi sehingga data-data FPS tersebut dapat ditampilkan lebih cepat di suatu platform operasi. Sehingga sangat membantu personel di Tower AMC untuk dapat memandu pesawat serta memberikan instruksi dengan cepat dan tepat,” jelas President Director PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin, dalam keterangan yang diterima RMco.id, Minggu (22/11).

Muhammad Awaluddin mengatakan, implementasi digitalisasi FPS merupakan salah satu wujud perseroan dalam menerapkan konsep Leading Digital. Yakni, upaya memperkuat PT Angkasa Pura II melalui digitalisasi seluruh aspek baik itu pelayanan, operasional dan bisnis. “Melalui digitalisasi, kami membawa industri pengelolaan bandara di dalam negeri ke level selanjutnya.”

Berita Terkait : Ini Trik Jitu PT Angkasa Pura II Rajai Pasar Operator Penerbangan Di ASEAN

Muhammad Awaluddin menambahkan, modernisasi Tower AMC T3 jelas dapat meningkatkan safety, security, services through compliance (3S+1C) di Bandara Soekarno-Hatta.

Sementara itu Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi menuturkan, melalui digitalisasi FPS, diharapkan dapat berdampak pada meningkatnya tingkat ketepatan waktu [on time performance/OTP] penerbangan dari maskapai. Penerapan konsep Leading Digital sangat mendukung terjaganya pelayanan dan operasional bandara-bandara PT Angkasa Pura II, termasuk di tengah pandemi Covid-19 ini. 

Implementasi Leading Digital ini adalah pengembangan 3 platform digital yang dikenal dengan DROID Platform: INAirports, iPerform, dan Smart ACDM.

Berita Terkait : Minat Terbang Naik, Kapasitas Kursi Penerbangan Di Bandara Soekarno-Hatta Terbanyak Di Dunia

INAirports merupakan platform ekosistem layanan dan informasi bandara bagi pelanggan/traveler melalui iOS dan Android. Sementara, iPerform merupakan platform untuk memonitor operasional bandara secara realtime dan informasi lainnya guna memudahkan pekerjaan karyawan di seluruh unit.

AP II juga merintis Airport Operation Control Center (AOCC) di Bandara Soekarno-Hatta sebagai platform untuk mengintegrasikan ekosistem eksternal guna menerapkan Airport Collaborative Decision Making (A-CDM). Platform ini dikenal dengan nama Smart A-CDM. [USU]