Bidik Jadi Bank Terbesar Keempat, CIMB Niaga Syariah Agresif

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara (kedua kanan) saat menjawab pertanyaan wartawan didampingi Head of Digital Banking, Branchless & Partnership CIMB Niaga Bambang Karsono Adi (kedua kiri), Head of Syariah Business Banking CIMB Niaga Rusdi Dahardin (kanan) dan Head of Syariah Consumer and Business Management CIMB Niaga Diah Rahma Paramaiswari (kiri) pada acara Diskusi Bersama CIMB Niaga Syariah di Jakarta, kemarin. (Foto: CIMB Niaga).
Klik untuk perbesar
Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara (kedua kanan) saat menjawab pertanyaan wartawan didampingi Head of Digital Banking, Branchless & Partnership CIMB Niaga Bambang Karsono Adi (kedua kiri), Head of Syariah Business Banking CIMB Niaga Rusdi Dahardin (kanan) dan Head of Syariah Consumer and Business Management CIMB Niaga Diah Rahma Paramaiswari (kiri) pada acara Diskusi Bersama CIMB Niaga Syariah di Jakarta, kemarin. (Foto: CIMB Niaga).

RMco.id  Rakyat Merdeka - CIMB Niaga Syariah menargetkan pertumbuhan bisnisnya tahun ini mencapai 30 persen. Kinerja yang meningkat di 2018, diharapkan bisa berlanjut di tahun ini. Perseroan juga agresif menargetkan jadi besar bank syariah terbesar keempat dari sisi aset.

Hingga kini, market share perbankan syariah belum bisa beranjak naik dari posisi stagnan di angka 5,72 persen. Sementara market share keuangan syariah masih di angka 8 persen secara nasional. Jumlah ini masih kalah jauh dari negara tetangga Malaysia yang mencapai 20 persen.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara berharap, ada peningkatan market share perbankan syariah secara nasional. Bagi CIMB Niaga Syariah sendiri, untuk mengejar target pertumbuhan, salah satu bentuk komitmen dari sang induk secara konsisten.

Berita Terkait : Sambut HUT Ke 65, CIMB Niaga Bikin Banyak Program Menarik

Tahun lalu, sang induk, CIMB Niaga telah menyuntikkan modal sebesar Rp 1 triliun. Dana tersebut digunakan untuk peningkatan pembiayaan bank. Pandji mengatakan, penanaman modal Rp 1 triliun kepada unit usaha syariah (UUS) agar Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga jangan sampai di bawah 14 persen. Sehingga CAR di 2018 pun mencapai 15,62 persen dan di tahun 2019 bertumbuh hingga 30 persen.

"Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan. Kalau ada pertumbuhan akan diberi lagi penambahan modal dari induk. Itu juga yang menunjukkan equity bertambah di atas standar perbankan," ujarnya.

Pandji menekankan, jika ingin bertumbuh, komitmen dari induk juga penting. Tak hanya permodalan, juga bagaimana resources-nya bertumbuh. “Tumbuh bersama dengan induk, jangan syariah sebagai saingan dan berdiri sendiri," tuturnya.

Berita Terkait : CIMB Niaga Luncurkan VCN & Mobile Banking BizChannel

Saat ini, CIMB Niaga Syariah berada di posisi lima besar industri perbankan syariah dari sisi aset yang tumbuh 45,4 persen atau mencapai Rp 34,38 triliun. Dia menargetkan, setidaknya bisa naik ke posisi empat besar dengan target aset sebesar Rp 45 triliun di tahun ini.

Kenaikan aset ditopang oleh kinerja unggul pembiayaan dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Pertumbuhan aset tersebut berkontribusi pada aset bank induk dengan share of book sebesar 12,98 persen.

Strategi pihaknya untuk memperbesar peran dalam pembiayaan berbagai proyek berskala besar seperti infrastruktur dan meningkatkan kontribusi dari segmen konsumer menunjukkan hasil menggembirakan. Per 31 Desember 2018, CIMB Niaga Syariah telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 26,51 triliun atau tumbuh 58,8 persen dari tahun 2017 sebesar Rp 16,69 triliun.

Baca Juga : Kapan Virus Corona Wafat? Wallahualam

“Ekspansi pembiayaan yang kami lakukan selalu didasari dengan prinsip kehati-hatian dan mengutamakan kualitas pembiayaan, sehingga kami bisa menjaga rasio Non Performing Financing (NPF) di posisi 0,98 persen atau di bawah rata-rata industri perbankan syariah. Tahun ini kita jaga di bawah 1 persen," ucapnya.

Dari sisi pendanaan, sepanjang 2018 CIMB Niaga Syariah dapat menghimpun DPK sebesar Rp23,71 triliun, tumbuh 19,1 persen dari posisi tahun lalu sebesar Rp 19,91 triliun. Adapun profit before tax (PBT) yang berhasil diperoleh pada 2018 sebesar Rp 701,61 miliar, meningkat 43,3 persen dari tahun 2017 sebesar Rp 489,68 miliar.

Hingga 31 Desember 2018, CIMB Niaga Syariah sebagai salah satu Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS-BPIH), telah menghimpun dana haji sebesar Rp 2,153 triliun dari 87.865 nasabah. “Khusus di 2018, pertumbuhan nasabah tabungan haji CIMB Niaga Syariah meningkat hingga 40 persen menjadi 42.196 nasabah. Sehingga menempatkan kami sebagai bank dengan jumlah tabungan haji terbesar kelima di Indonesia,” tutur Pandji. [DWI]