Akan Dievaluasi Menhub

Penurunan Tarif Pesawat Hanya Basa-basi Busuk

Ilustrasi. (Foto : Istimewa).
Klik untuk perbesar
Ilustrasi. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penurunan tarif tiket pesawat terbang di bawah ekspektasi masyarakat. Sifatnya hanya sementara.  Itu pun dengan jumlah kursi terbatas. 

Penurunan tiket terkesan hanya basa-basi saja untuk menjalankan imbauan pemerintah. Menanggapi itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi berjanji akan menggelar evaluasi lagi jika harga tiket masih tinggi. 

“Tugas kita sekarang ini memantau. Apakah penurunan tiket dilakukan dengan benar atau tidak. Kalau sudah seminggu masih tinggi, kita akan evaluasi lagi,” ungkap BKS-sapaan akrab Budi Karya usai menghadiri acara Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) di Kemayoran, Jakarta, kemarin. 

Seperti diketahui, Kementerian Perhubungan (kemenhub) baru-baru ini mengeluarkan dua regulasi baru. 

Pertama, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Kedua, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 2019 Tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. 

Berita Terkait : Menhub Bundling Pengelolaan 3 Bandara

Fokus utama kedua regulasi tersebut sebenarnya memang tidak terkait dengan penurunan tiket penerbangan. Tetapi untuk mendukung persaingan maskapai lebih sehat. Mencegah perang tarif yang bisa menyebabkan maskapai mengalami kerugian. 

Oleh karena itu, Kemenhub menaikkan Tarif Batas Bawah (TBB), dari semula 30 persen dari Tarif Batas Atas (TBA) menjadi 35 persen dari TBA. Penerbitan tarif itu disebut-sebut sebagai bentuk kompromi pemerintah dengan maskapai untuk menekan tarif pesawat yang dinilai tinggi. 

BKS menuturkan, pemerintah selama ini tidak pernah melakukan intervensi terhadap penjualan harga tiket. Pemerintah masih memberikan kesempatan kepada maskapai untuk memberikan tarif yang terjangkau. Tujuannya agar penurunan tarif bisa dilakukan dengan mekanismenya yang natural. 

BKSmelihat, sejauh ini, sudah ada dua grup besar melakukan penurunan tiket. Pertama, Garuda Indonesia Group dengan memberikan diskon hingga 50 persen untuk semua rute domestik periode 31 Maret hingga 13 Mei 2019. Meskipun diakuinya penurunan itu dalam rangka promosi untuk menyambut ulang Tahun BUMNdan untuk kegiatan Travel Fair. 

Kedua, Lion Air Group. Tetapi, pihaknya belum mengetahui detail berapa penurunan yang diberikan Lion Air Group. 

Berita Terkait : Antisipasi Kerugian Akibat Wabah Corona, Menhub Bakal Beri Kelonggaran ke Industri Transportasi

“Kami akan pantau terus. Jika tarif tiket tidak (masih) terjangkau, kami terpaksa, sekali lagi kami terpaksa akan menggunakan kewenangan kami dalam Undang-Undang (melakukan intervensi-red),” tegasnya. 

Keluhan atas masih tingginya tiket pesawat domestik sebelumnya aantara lain disampaikan Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharso. 

Dia menyayangkan penurunan tiket hanya diberikan hanya untuk acara promo dan diberikan travel perjalanan tertentu. 

Dia mengungkapkan , beberapa anggotanya merasa kecewa dengan Garuda Indonesia. Karena, Garuda bersikap tidak fair hanya memberikan diskon kepada beberapa asosiasi agen travel. 

“Kami dari Astindo sangat menyayangkan bahwa Garuda Indonesia bersikap tidak fair, sehingga anggota kami pun banyak yang mengeluhkan hal ini,” ujar Pauline. 

Berita Terkait : WNI Yang Dievakuasi Bebas Corona, Menko PMK Minta Masyarakat Natuna Tak Khawatir

Era Tiket Murah Berakhir 

Masyarakat sebaiknya tidak berharap banyak tarif pesawat bisa turun signifikan. Sebab era tiket murah sudah berakhir. 

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengungkapkan, aturan baru Kemenhub bertujuan untuk menciptakan persaingan lebih sehat. Tarif bisa turun dengan adanya aturan itu tetapi tidak signifikan. 

“Dengan aturan baru, maskapai bisa menurunkan tarif batas atasnya. Tarif bisa turun tetapi tidak besar. Penjualan tiket real cost atau tarif yang sebenarnya,” ujarnya. [KPJ]