RMco.id  Rakyat Merdeka - Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno dalam kampanye dan debat pilpres selalu mengatakan tarif listrik saat ini mahal dan memberatkan masyarakat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan membantahnya.

Dikutip dari akun instagramnya @ignasius.jonan, Jonan mengatakan, tidak ada kenaikan tarif listrik bila dibandingkan awal 2015. “Mungkin maksudnya karena konsumsinya naik atau golongan pelanggan mampu yang dicabut subsidinya,” ujarnya.

Baca Juga : Soal Pembubaran 18 Lembaga, Ombudsman Usul Jokowi Evaluasi BLU

Jonan menjelaskan, dana dari penghapuskan subsidi listrik tersebut untuk pembangunan jaringan listrik untuk yang belum dapat jaringan listrik.

Dirut PLN Sofyan Basir sebelumnya mengatakan, tidak ada kenaikan sejak 2015. “Meski harga minyak naik, batu bara naik, tarif PLN tetap sejak 2015," kata Sofyan.

Baca Juga : MotoGP : Rossi-Marquez Apes, Quartararo Juara Seri Pembuka

Berdasarkan data PLN tarif listrik dari 2015-2018 tidak ada kenaikan bahkan cenderung turun. Tarif listrik pada Juli 2015 sebesar Rp 1.548 per kWh dan pada 31 Desember 2018 tarif turun 5 persen menjadi Rp 1.467 per kWh untuk tegangan rendah.

Sementara untuk tegangan menengah tarif listrik pada Juli 2015 sebesar Rp 1.219 per kWh dan pada 31 Desember 2018 tarif turun 9 persen menjadi Rp 1.115 per kWh. Sedangkan untuk tegangan tinggi tarif listrik pada Juli 2015 sebesar Rp 1.087 per kWh dan pada 31 Desember 2018 tarif turun 8 persen menjadi Rp 997 per kWh.

Baca Juga : Biar Ngegas, Aturan Bisnis Logistik Jangan Dibikin Ruwet

Pada 1 Maret 2019, PLN juga resmi menurunkan tarif listrik untuk 21 juta rumah tangga pelanggan R-1 900 VA. Penurunan tarif listrik ini dilakukan dalam rangka pemberian insentif. Dengan insentif tersebut, 21 juta rumah tangga pelanggan R-1 900 VA yang selama ini membayar tagihan listrik sebesar Rp 1.352 per kWh, kini dipangkas menjadi hanya Rp 1.300 per kWh. [DIT]