Genjot Ketahanan Pangan

Kementerian BUMN Permak Pabrik Gula

Produksi gula BUMN mencapai 1,19 juta ton, dari sebelumnya 1,16 juta ton. Dalam lima tahun ke depan, produksi gula BUMN mencapai 3,2 juta ton. (Foto: IG @kementrianbumn)
Klik untuk perbesar
Produksi gula BUMN mencapai 1,19 juta ton, dari sebelumnya 1,16 juta ton. Dalam lima tahun ke depan, produksi gula BUMN mencapai 3,2 juta ton. (Foto: IG @kementrianbumn)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendukung ketahanan pangan dan swasembada gula. Upaya itu tercermin dari percepatan program revitalisasi pabrik-pabrik yang dikelola PT Perkebunan Nusantara Grup dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero).

Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro menganggap percepatan ini perlu dilakukan. Sehingga produksi meningkat dan kebutuhan gula dalam negeri tercukupi.

Revitalisasi itu meliputi peningkatan efisiensi, kapasitas giling, perbaikan kualitas gula, hingga hilirisasi produk. Wahyu mengatakan, upaya itu sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah.

“Langkah tersebut akan memangkas biaya produksi gula BUMN sehingga gula dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Namun tanpa mengesampingkan upaya peningkatan kesejahteraan petani, mitra, karyawan, maupun keuntungan perusahaan negara,” katanya di Jakarta, kemarin.

Baca Juga : Arab Saudi Larang Warga Negara-negara GCC Masuk ke Mekkah dan Madinah

Wahyu merinci, produksi gula BUMN saat ini sekitar 1,16 juta ton, terdiri dari produksi gula PTPN Group 856 ribu ton, PT RNI 271 ribu ton, dan PT Gendhis Multi Manis (GMM) 35,5 ribu ton. Gula tersebut masing-masing dihasilkan dari area tebu seluas 224 ribu hektare, terdiri dari 172 ribu hektare area tebu PTPN Group, 46,2 ribu hektare area RNI dan 5,5 ribu hektare lahan GMM.

Proyeksinya, produksi gula perusahaan pelat merah mencapai 1,19 juta ton, dari sebelumnya 1,16 juta ton. Meski begitu, Wahyu menyebut dalam lima tahun ke depan produksi gula BUMN mencapai 3,2 juta ton, sesuai roadmap.

Beberapa pabrik gula PTPN Grup tengah ditransformasikan proses produksinya dari sulfitasi menjadi defikasi remelt karbonatasi. Kemudian kapasitas lima pabrik juga telah ditingkatkan dari semula 20 ribu ton tebu per hari (TCD) menjadi 32 ribu TCD. Terdapat peningkatan kapasitas sebesar 12 ribu ton.

Begitupun dengan PTPN XI, bakal merevitalisasi pabrik etanol teknis dengan kapasitas 15 KLPD, menjadi industrial grade Bio-ethanol dengan kapasitas 100 Kiloliter per hari. “Inovasi produk turunan tebu tersebut dalam rangka meningkatkan nilai tambah produk, meningkatkan daya saing di kawasan ASEAN, meningkatkan kinerja keuangan hingga kontribusi pada pendapatan negara,” tutur Wahyu.

Baca Juga : Bangun Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Bisa Terapkan Intervensi Terbatas

Sebagai BUMN, PTPN juga memiliki peranan dalam menjalin kemitraan dengan petani tebu, sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup para petani. Saat ini, pabrik gula BUMN menjadi pionir dalam membangun kemitraan ideal dengan petani tebu. Sekitar 90 persen pabrik gula BUMN di Jawa menggiling tebu petani dengan mekanisme bagi hasil.

Investasi Rp 4,7 Triliun
Executive Vice President Holding PTPN, Aris Toharisman menjelaskan, pola-pola perbaikan hubungan kemitraan pun terus dilakukan perseroan. Baik dalam penyediaan sarana produksi dan panen, serta dukungan pendanaan lewat program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).

“Bahkan, PTPN Grup dan RNI juga telah bersinergi dengan Perum Bulog. Di mana saat musim giling 2018 telah menyalurkan penjualan gula tani ke Bulog dengan harga Rp 9.700 per kg,” ujar Aris. Dia menyebut periode 2016-2019, investasi pabrik gula BUMN mencapai Rp 4,7 Triliun. Beberapa pabrik bisa menghasilkan gula kualitas premium yang memenuhi standar industri makanan dan minuman.

Sementara pabrik-pabrik yang berkapasitas kecil, berada di perkotaan dan pemukiman padat, serta kesulitan pasokan tebu, dialihfungsikan untuk sentra komersial lainnya seperti agrowisata dan properti.

Baca Juga : Mahathir Siap Jadi Perdana Menteri Malaysia Lagi

Aris mengungkapkan, pabrik gula BUMN senantiasa menempati ranking rendemen tertinggi. Pada 2017, sebanyak 7 dari 10 pabrik dengan rendemen tertingi masih di bawah pengelolaan BUMN. Rendemen sendiri merefleksikan perpaduan kinerja sektor tanaman dan pabrik.

“Semakin tebu berkualitas dan semakin tinggi efisiensi pabrik, maka rendemen pun semakin besar. Gambaran ini menunjukkan bahwa kinerja pabrik gula BUMN relatif baik, bahkan dibandingkan dengan pabrik gula lain yang relatif masih baru,” pungkasnya. [MEN]