RMco.id  Rakyat Merdeka - Sepanjang 2028, pendapatan XL Axiata naik tipis. Pertumbuhan ditopang oleh naiknya layanan data.

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, pada tahun lalu, XL berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 0,4 persen lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu. Pertumbuhan didorong oleh pendapatan dari layanan data yang meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peningkatan ini memperbesar kontribusi pendapatan layanan data pada total pendapatan perusahaan menjadi 80 persen di 2018, meningkat dari 69 persen di tahun sebelumnya,” ujarnya dalam keterangannya.

Baca Juga : Kurangi Impor, Kementan Kembangkan Budidaya Bawang Putih di Probolinggo

Dian menyebutkan, bahwa peningkatan pendapatan dari data yang sangat pesat tersebut tidak hanya lebih tinggi dari perolehan industri, namun juga mampu menutup dampak negatif dari penurunan pendapatan layanan tradisional voice dan SMS. Pencapaian ini juga merupakan prestasi tersendiri karena operator lain merasakan dampak yang lebih berat dari penurunan kinerja kedua layanan warisan masa lalu tersebut.  

Hingga tutup tahun 2018, laba sebelum pajak (EBITDA) mengalami peningkatan sebesar 2 persen, dengan margin naik menjadi 37 persen. Capaian ini terutama terdorong oleh peningkatan pendapatan dan lebih berfokusnya perusahaan pada efisiensi biaya.  

Dian juga menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum berkelanjutan obligasi dan sukuk ijarah XL Axiata untuk belanja modal atau capital expenditure dalam upaya pengembangan jaringan data secara masif di seluruh Indonesia. Pada realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I XL tahap I 2018, sampai dengan 31 Desember 2018, dari hasil bersih sebesar Rp 994.199.000.000 yang telah dipergunakan dana sebesar Rp 947.476.000.000.

Baca Juga : Baja Krakatau Steel Laris Di Tahun 2020

Dana tersebut untuk belanja modal berupa radio base station, optical project (fiber optic), dan belanja modal lainnya. Sisa dana Rp 46.723.000.000 ditempatkan sebagai deposito di PT Bank Bukopin Tbk dengan tingkat suku bunga per tahun sebesar 9,25 persen. Sisa dana ini selanjutnya telah dipergunakan seluruhnya untuk belanja modal sampai dengan 31 Januari 2019 dan akan dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan pada periode pelaporan berikutnya Juni 2019.  

Pada saat bersamaan, untuk realisasi penggunaan dana hasil bersih penawaran umum berkelanjutan sukuk ijarah berkelanjutan II XL tahap I 2018 sebesar Rp 994.469.000.000 sampai dengan 31 Desember 2018, perseroan telah mempergunakan dana seluruhnya untuk belanja modal berupa radio base station, optical project (fiber optic), dan belanja modal lainnya. 

Selanjutnya, untuk realisasi penggunaan dana hasil bersih penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I XL tahap II 2019 dan penawaran umum berkelanjutan sukuk ijarah berkelanjutan II XL Axiata tahap II 2019 dengan masing-masing sebesar Rp 631.554.000.000 dan Rp 637.783.000.000‪ ‬sampai dengan 31 Maret 2019, perseroan telah mempergunakan dana seluruhnya untuk belanja modal berupa base station subsystem (BSS) dan transmisi fiber optic. [DIT]