Koperasi dan UKM Butuh Akses Pembiayaan

Masyarakat Menanti Hasil Nyata Rakornas

Staf Ahli Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kemenkop UKM Herustiati pada sidang komisi pembahasan RPJMN, Rakornas Kemenkop dan UKM tingkat provinsi, kabupaten / kota seluruh Indonesia yang berlangsung di Bangka Belitung, Jumat (3/5/2019). (Foto: Humas Kemenkop dan UKM).
Klik untuk perbesar
Staf Ahli Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kemenkop UKM Herustiati pada sidang komisi pembahasan RPJMN, Rakornas Kemenkop dan UKM tingkat provinsi, kabupaten / kota seluruh Indonesia yang berlangsung di Bangka Belitung, Jumat (3/5/2019). (Foto: Humas Kemenkop dan UKM).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) merencanakan program pembangunan pasar tematik mulai tahun depan, serta me-review kredit berbunga subsidi untuk koperasi dan pengusaha kecil.

Konsep pembangunan pasar tematik rencananya masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN Koperasi dan UKM 2020 - 2024. Program ini diyakini bisa mendukung pertumbuhan koperasi serta UKM (KUKM) di daerah.

“Pasar tematik adalah pasar rakyat yang akan memperdagangkan produk-produk UKM yang merupakan keunggulan daerah setempat,” terang Staf Ahli Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kemenkop UKM Herustiati, dalam salah satu sesi Rakornas Bidang Koperasi dan UKM di Pangkalpinang, Bangka Belitung akhir pekan kemarin.

Ia mengemukakan, alokasi anggaran pembangunan pasar tematik diperkirakan Rp 1 miliar - 1,5 miliar untuk tiap pasar. Daerah dapat mengajukan pembangunan pasar tematik ke Kementerian namun dengan syarat lokasinya harus clear and clean, atau tidak sedang dalam sengketa atau berpotensi sengketa.

Baca Juga : Yang Penting Juara, Mane Anggap Tak Penting Medali

Di samping itu, tambahnya, pasar tematik juga bisa dilakukan dengan merevitalisasi pasar yang sudah ada.

Saat ini, Kemenkop dan UKM memiliki program revitalisasi pasar rakyat. Program revitalisasi pasar rakyat akan tetap dilaksanakan untuk RPJMN 2020 - 2024 dan konsep pembangunan pasar tematik menjadi bagian dari program revitalisasi pasar rakyat tersebut. “Produk yang masuk dalam pasar tematik harus yang merupakan ikon daerah tersebut,” tegas Herustiati.

Buah pikiran lainnya dalam Rakornas yang dihadiri Kepala Dinas Koperasi & UKM seluruh Indonesia itu adalah, me-review dan menyusun peraturan perundangan, atau kebijakan terkait kredit bersubsidi bunga dan penjaminan bagi KUKM.

Kesepakatan itu dirumuskan dalam arah kebijakan Rencana Strategis (Renstra) Kemenkop dan UKM di bidang peningkatan akses pembiayaan periode 2020-2024.

Baca Juga : Suzuki Pasrah MotoGP Qatar Batal Gegara Corona

“Ini dalam rangka mewujudkan UMKM yang berdaya saing dan memiliki keunggulan kompetitif dan spesifik, khususnya pada usaha produktif dan industri kreatif,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, I Gede Indra.

Milenial Berkoperasi
Sekretaris Kemenkop UKM Prof Rully Indrawan berharap, komunikasi intensif antara pusat dan daerah tetap terus terjalin, meski Rakornas 2019 telah usai.

“Meski Rakornas sudah usai, namun pekerjaan kita belum selesai. Segala masukan, saran, dan rekomendasi dari daerah akan kita rumuskan sebagai hasil Rakornas. Yang harus selalu diingat, masyarakat sekarang sudah sangat kritis, pasti akan menuntut hasil dari Rakornas yang baru saja kita selenggarakan,” tegas Prof Rully saat menutup Rakornas akhir pekan kemarin di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Prof Rully menekankan, di era keterbukaan ini, pusat dan daerah harus terus berinteraksi agar dapat memberikan inspirasi bagi daerah lain. “Kita harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam berkomunikasi ke seluruh penjuru Indonesia, agar bisa memberi manfaat bagi rakyat,” ujar Prof Rully.

Baca Juga : Di Rakernas LHK, Nurbaya Kasih Pencerahan Soal Omnibus Law

Yang tak kalah penting, dia meminta agar seluruh daerah secara lebih kuat dan masif terus menggaungkan koperasi, khususnya di kalangan generasi muda dan milenial. “Koperasi sebagai salah satu tata kelola ekonomi sebuah bangsa, harus merasuk ke kalangan generasi milenial,” harapnya.

Dia mengakui, saat ini memang kekurangan tenaga pengajar khusus ilmu perkoperasian. Tapi sadar atau tidak sadar, imbuh dia, dengan banyaknya generasi milenial yang membentuk komunitas atau kebersamaan, itu saja sudah mengandung unsur berkoperasi. Naluri kebersamaan sudah terbentuk di kalangan generasi muda dan milenial.

“Ini yang harus dipertahankan. Lebih dari itu, melalui koperasi, pemerataan pembangunan juga sudah mulai dirasakan masyarakat, dimana gini ratio atau tingkat kesenjangan sudah mulai berkurang,” kata Prof Rully.

Bahkan, lanjut Prof Rully, sudah banyak wirausaha muda yang melakukan bisnis secara berkelompok, sharing economics, hingga kolaborasi bisnis. “Sebenarnya, mereka sudah menjalankan tata kelola usaha dengan pola koperasi, yaitu kebersamaan,” tutupnya.  [EFI]