RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan bersama Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto didampingi Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Arifin Tasrif, dan Deputi Perencanaan SKK Migas Faffe Arizon Suardin, melakukan pertemuan dengan Chief Executive Officer INPEX Corporation, Takayuki Ueda, di Kantor Pusat INPEX Corporation di Tokyo, kemarin.

Pertemuan tersebut, membahas finalisasi Plan of Development Blok Masela, untuk mendapatkan opsi terbaik, dengan estimasi investasi yang rasional dan efisien.

Jonan menjelaskan, kunjungan ini untuk membahas lebih lanjut soal pengembangan Blok Masela. Blok Masela yang telah dieksplorasi sejak 1998, akan dikembangkan dengan kapasitas 9,5 juta Ton LNG per tahun dan 150 MMSCF per hari di sekitar Laut Aru. 

Baca Juga : 8 Pejabatnya Positif Corona, Pemprov DKI Berikan Penanganan Medis Terbaik

Karena itu, ia mengatakan, di masa mendatang pengembangan Blok Masela diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam pengembangan Blok Migas lainnya, dan menunjukan bahwa potensi hulu migas di Indonesia, masih memiliki prospek yang bagus.  “Ini menunjukkan bahwa potensi hulu migas di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus buat industry migas,” ujarnya.

Setelah dari Jepang, Menteri ESDM akan melanjutkan kunjungan kerja ke Eropa dan Amerika serta kembali ke tanah air, pada 24 Mei 2019. 

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto sebelumnya, menerangkan, masa tender engineering, procurement, and construction (EPC) dari fasilitas pengolahan gas alam cair lapangan abadi di Blok Masela dapat dimulai pada kisaran 2020-2021. Namun,  hal tersebut bisa terjadi selama plan of development (PoD) selesai pada 2019.

Baca Juga : Setelah Kesepakatan di Washington, Israel Gempur Gaza Lagi

Dwi menyebut, pihaknya akan memakai bantuan ahli asing dalam menghitung biaya pengembangan Blok Masela. Para ahli itu berasal dari Houston, Amerika Serikat dan Energy World Corporation.

"Sat ini evaluasi mengenai biaya pengembangan Blok Masela oleh pakar tersebut masih berlangsung," ujar Dwi.

Sebenarnya, kata dia, SKK Migas mempunyai tim penilaian internal. Namun, SKK Migas membutuhkan bantuan para ahli di bidang-bidang tertentu karena teknologi terus berkembang dan semakin canggih. Ia memastikan para ahli asing yang telah ditunjuk ini sudah teruji di kelas dunia.

Baca Juga : Jakarta Cetak Rekor Baru Lagi, Duh Gusti Kapan Turunnya...

PoD Blok Masela sebenarnya telah disetujui pemerintah pada Desember 2010, yaitu 12 tahun setelah kontrak pengelolaan blok tersebut diperoleh Inpex Masela pada 1998. Dalam POD itu, Blok Masela dijadwalkan mulai berproduksi (onstream) 2018 dengan volume produksi 355 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan produksi kondensat sebanyak 8.400 barel per hari (bph).

Belakangan, Inpex berencana meningkatkan kapasitas kilang Floating LNG (FLNG) sehingga perlu mengubah PoD. Dengan konsep laut, dan jika semua prosesnya berjalan lancar, Blok Masela paling lambat baru bisa berproduksi pada 2023.

Namun akhirnya proyek Masela diubah menjadi skema darat setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan konsep proyek anyar itu pada Maret 2016 menjadi di darat atau onstream. Keputusan ini berbeda dengan usulan Inpex yang menginginkan skema pengolahan di laut FLNG atau offshore. Alhasil, Inpex mengubah lagi skema proyek tersebut. (NOV)