RMco.id  Rakyat Merdeka - Tren digital terus berkembang termasuk pencarian informasi untuk membeli properti. Hasil survei situs properti utama di Indonesia Rumah123.com menyebut, pencarian rumah via online terus meningkat. Tapi daya beli masih tergolong stabil bahkan menurun.

Country GM Rumah123, Maria Manik mengungkapkan, dari data yang diolah oleh tim Business Intelligent Rumah123.com, persentase pencari informasi seputar properti di internet meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. “Dari data property agent yang terdaftar di rumah123 mengalami kenaikan. Tidak hanya minat untuk mencari, tapi dari agen properti juga menginformasikan adanya kenaikan penjualan dan penyewaan properti,” ujar Maria kepada Rakyat Merdeka usai acara buka bersama bareng media di Jakarta, kemarin.

Baca Juga : Agar Antrean KRL Makin Ambyar, Perum PPD Ikut Siapkan Bus Gratis

Dari data yang diolah oleh tim Business Intelligent Rumah123, juga menyebutkan bahwa persentase pencari informasi seputar properti meningkat dua kali lipat, mengalahkan dominasi persentase first time home buyers dalam dua tahun terakhir. Pencarian properti didominasi oleh milenial, yang memiliki rentang usia sekitar 28 tahun, dengan rentang gaji Rp 5 sampai Rp 10 juta. Kebanyakan mereka gencar melakukan pencarian, tapi menahan untuk membeli.

Menurut dia, para pencari belum membeli karena belum menemukan properti yang tepat. Bahkan, kata Maria, dari datanya, banyak kalangan muda yang berpenghasilan Rp 30 juta tapi belum memiliki properti. “Secara finansial masih banyak juga orang yang bergaji 30 juta ke atas tetapi belum memiliki properti” katanya.

Baca Juga : Kasus Baru Terbanyak di DKI, Kasus Sembuh Terbanyak di Sulsel

“Saya pahami terkadang persepsi itu yang mengendalikan kemampuan. Mereka merasa kemampuan mereka membeli itu sangat rendah. Padahal, dengan gaji Rp 10 juta sampai Rp 20 juta sekalipun, mereka sebenarnya bisa memiliki properti,” jelas Maria.

Apalagi kebanyakan golongan muda ini terutama milenial, belum mengetahui bagaimana caranya mengelola keuangan. Sehingga tidak bisa memprioritaskan kebutuhan pokok seperti properti. “Mereka harus tahu misalnya mengalokasikan investasi sekian persen atau 30 persen dari pendapatan per bulan. Lalu alokasikan untuk kebutuhan dasar, baru sisanya ke lifestyle,” imbaunya.

Baca Juga : Dapat Sehatnya, Nambah Duitnya

Maria menyayangkan fakta sekarang ini semakin tinggi gaji seseorang, tetapi nilai investasinya kecil, hanya sekitar 2 atau 3 persen. Menurut dia, ini tidak masuk akal. Apalagi sampai uangnya shifting larinya untuk lifestyle, main-main, cicilan kartu kredit, dan lain sebagainya.

“Dalam survei ini kita memang tidak meng-capture kelompok milenial atau bukan. Tapi kita bisa mengansumsikan yang paling aktif itu dari usia mereka yang aktif,” terang Maria. Dia bilang, dari data year on year untuk sale atau pembelian, ada kenaikan sekitar 30 persen dan penyewaan mengalami kenaikan sekitar 65 persen. (JAR)