RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah rontok pada tahun lalu, bisnis telekomunikasi alias telekomunikasi alias telko mulai kinclong lagi. Bahkan, beberapa operator besar optimis dapat cetak untung. Dering bisnis telko makin nyaring.

Direktur Utama PT XL Axiata Tbk Dian Siswarini mengaku bisnis telko pada tahun menurun. Salah satu penyebabnya aturan registrasi kartu SIM prabayar. Namun, penurunan itu hanya sementara.

Ini terbukti pada awal tahun ini, bisnis telko mulai membaik lagi. Karena itu, Dian optimis, pada tahun ini bisnis telko akan tumbuh.

Berita Terkait : Jamin Kepastian Usaha Telekomunikasi, KPPU Kudu Dilibatkan Dalam RPP Postelsiar

Pasca pemerintah mewajibkan registrasi kartu SIM prabayar, perilaku konsumen berubah. Dari yang sebelumnya hanya beli pakai buang kartu perdana, kini menjadi pelanggan yang royal.

Menurut dia, dengan adanya program registrasi kartu membuat jumlah pelanggan lebih pasti. “Tahun ini bisnis telko bisa tumbuh dikisaran single digit,” katanya.

Dirut Telkomsel yang kini ditunjuk jadi Dirut Telkom Ririek Ardiansyah memprediksi tahun industri telko Indonesia bisa tumbuh lebih baik. Telkomsel pun menargetkan pada tahun ini tumbuh 4-5 persen.

Berita Terkait : Cegah Monopoli Bisnis Telekomunikasi, KPPU Diminta Terlibat Sejak Awal

“Kami berharap bisa tumbuh di atas rata-rata industri,” ujar Ririek di Jakarta, Senin lalu.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang bisa mendongkrak pertumbuhan bisnis, seperti registrasi kartu yang mulai membuahkan hasil dan persaingan antar operator kini lebih rasional sehingga harga data internet relatif lebih stabil.

Untuk diketahui, 2018 ditutup dengan kinerja operator selular yang tidak memuaskan. Pertama kalinya setelah lebih dari tiga dekade, terjadi negative growth sebesar 7,4 persen. Tak dapat dipungkiri, pertumbuhan minus itu dipicu oleh tiga faktor utama.

Baca Juga : Baznas Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa Di Sulawesi Barat

Pertama, kebijakan registrasi kartu SIM prabayar. Kedua, menurunnya penggunaan legacy service (SMS dan voice) karena maraknya layanan OTT sejenis. Dan ketiga, perang tarif khususnya data yang tak kunjung usai. [DIT]