RMco.id  Rakyat Merdeka - Dia tidak hanya pintar. Tapi juga sangat teruji. Bukan pekerjaan bankir sebenarnya, naik sampan hingga mencapai pulau terpencil, sampai ke Haruku sana. Tapi Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo ini melakukannya dengan sepenuh hati. "Saat itu saya baru tiga bulan jadi Dirut Mandiri. Diajak ke Pulau Haruku dan jadi komandan Upacara 17 Agustus di sana. Ini pengalaman very rich, bukan saja sebagai (direktur utama) perusahaan, tapi kami juga sebagai person, tuturnya.

Kenapa? Sebab, untuk sampai ke sana butuh perjuangan. Haruku berada di Kabupaten Maluku Tengah. Dari Ambon terlebih dahulu ke Pulau Seram, naik kapal. Setelah itu, lanjut bersampan karena di Pulau Haruku, tidak ada ada dermaga. Sampai lokasi, perasaan campur aduk. Ada rasa tegang, sebab kabarnya, di situ dulunya basis pemberontak. Sekaligus haru, karena anak-anak melakukan upacara dan mengibarkan merah putih dengan pakaian seadanya, tak bersepatu. "Mendengar anak-anak membaca Pancasila, dengan logat khasnya. Saya tersentuh. Karena diajak Bu Rini, pengalaman NKRI saya terwujud sedahsyat itu," ungkap Tiko, sapaan akrabnya.

Baca Juga : Ida Tak Mempan, Coba Luhut...

Bu Rini yang dimaksud adalah Menteri BUMN Rini Soemarno. Saat bertamu ke redaksi Rakyat Merdeka, Tiko, bankir alumni Universitas Indonesia ini ditemani Direktur Bisnis dan Jaringan Hery Gunardi, Direktur Corporate Banking Royke Tumilaar, Corporate Secretary Rohan Hafas, VP Corcom Maristella Tri Haryanti dan Media Relation Manager Eko Noviansyah. Semuanya kompak berbatik.

Kedatangan Tiko dan rombongan, disambut Direktur Rakyat Merdeka Group Kiki Iswara Darmayana, Komisaris Karim Paputungan, Pimpinan Umum Ratna Susilowati, tim redaksi dan jajaran manajemen RM Group. Kami ngobrol hangat dan cair. Tiko bercerita mulai dari yang ringan sampai serius, soal situasi ekonomi dan tahun politik.

Baca Juga : Pak Jokowi, Hari Ini Ke Mana Ya..?

Selain ke Pulau Haruku, Tiko juga pernah diajak Rini ke Pulau Liran, Agustus tahun lalu. Di sana dia baru tahu, ada penduduk Indonesia yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lebih dekat ke Kota Dili, Timor Leste. Bukan ke Maluku. Tiko juga pernah ke Puncak Jaya, Papua, untuk program pembinaan petani kopi, Desember 2017.

Dia kaget melihat cara masyarakat di sana menyiapkan hidangan untuk para tamu. Mereka menggali tanah. "Rupanya ubi dan ayamnya dibakar di dalam tanah. Saat dikeluarkan ayam dan ubi itu hitam semua. Ini gimana makannya," kenang Tiko.

Baca Juga : Yang Demo 1.000, Yang Ngawal 7.500

Perjalanan ke Papua juga tidak kalah tegang, karena saat itu rupanya berdekatan dengan peringatan ulang tahun organisasi pemberontak di sana. "Turun dari pesawat, dikawal satu batalyon. Kami baru sadar soal keamanan saat itu," kisahnya. Dalam kondisi begitu, Menteri BUMN bahkan berani blusukan ke pasar, yang tidak ada dalam agenda perjalanan. Rombongan ketar-ketir. Tapi bersyukur semua berlangsung lancar.

Yang mengharukan, saat mengunjungi hunian sementara korban gempa di Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Oktober 2018. Di dapur tempat mereka tinggal, ada ibu-ibu memasak untuknya. "Tak pernah terbayang, saya makan urap dan lodeh bersama ibu-ibu korban gempa," cerita Tiko. Semua kisah ini, kata Tiko, kalau didapat hanya dari membaca, tidak akan terasa. Sangat berbeda saat kita merasakan langsung. "Jadi Dirut Bank Mandiri (zaman) dulu nggak mungkin lihat yang seperti itu. Sekarang, dalam hidup, kita jadi memiliki misi apa yang bisa kita kerjakan. Bu Rini telah membuat kita semua, dirut-dirut BUMN, berubah," imbuh Tiko. [MEN]