Juleha Ajarkan Cara Sembelih Hewan Secara Halal

Klik untuk perbesar
Alwi Mahir, salah satu inisiator Juleha (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat Juru Sembelih Halal (Juleha) hadir untuk mengedukasi masyarakat di Indonesia terkait tata cara menyembelih hewan secara halal.

Alwi Mahir, salah satu inisiator Juleha, mengatakan, lembaganya dibentuk atas inisiatif para pelaku penyembelih dengan harapan bisa mengedukasi masyarakat agar bisa menjalankan tata laksana penyembelihan baik hewan kurban seperti domba, kambing, unta dan lembu atau sembelihan halal lain seperti ayam yang hukum dari kehalalannya tergantung dari tata laksana penyembelihannya.

“Juleha saat ini diketuai Ustaz  M Ali Subarkah. Saat ini berbagai kegiatan dilakukan untuk merumuskan tata laksana penyembelihan halal dan kami juga sedang mencoba membuat media komunikasi berupa buku panduan maupun media  lainnya untuk mensosialisasikan tata laksana penyembelihan halal,” katanya.

Juleha juga secara rutin melakukan pelatihan dari masjid ke masjid untuk melatih para penyembelih. Bahkan saat ini mulai dikembangkan audit di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang ada di sekitar lingkungan basecamp Juleha. Alwi mengaku sampai saat ini ruang gerak Juleha masih terbatas pada dana swadaya sehingga masih sedang mencari satu media yg lebih aktif dan masif utk informasikan tentang organisasi.

Baca Juga : Menhub Dukung Pengembangan Pelabuhan Benoa yang Ramah Lingkungan

Fokus dari Juleha adalah melakukan pelatihan dan sertifikasi terhadap para pelaku penyembelih agar dapat melaksanakan tata laksana penyembelihan sesuai dengan syariat dan keilmuannya yang digarisbawahi pada pedoman “ASUH” (Aman Sehat Utuh Halal). “Seiring waktu dan perlahan Juleha sudah beranggotalan 450 orang di Jabodetabek, mulai juga ada di Surabaya, Malang, dan Solo,” katanya.

Juleha ingin menyuarakan dan mengedukasi masyarakat tata laksana penyembelihan halal di Indonesia yang dianggapnya masih belum sesuai dengan kaidah maupun syariat agama. Menurut dia, tata laksana penyembelihan baik di RPH yang sudah mendapatkan izin dari pemerintah maupun tempat penyembelihan hewan kurban lainnya masih jauh sekali dari pedoman ASUH. 

Ia mencontohkan penyembelihan yang dilakukan di atas selokan air atau di galian tanah. 

“Itu akan mudah sekali terjadi cross kontaminasi bakteri antara bakteri di selokan, bakteri tanah yang bisa mencemari hewan sembelihan sehingga daya simpan hewan sembelihan tersebut menjadi turun drastis menjadi sangat singkat karena tercemar bakreri negatif,” katanya.

Baca Juga : Persiapan Pengoperasian Ro-Ro Dumai-Malaka, Kemenhub-Bahagian Maritim Malaysia Gelar Pertemuan

Lebih lanjut, kata dia, terkait tata laksana yaitu menyembelih dengan halal ada syarat mendasar yang masih banyak belum dilakukan di antaranya Penyembelih harus suci dari hadast kecil maupun besar. 

Sementara, dari sisi isu “animal welfare”, konsep ibadah kurban seringkali menjadi salah kaprah karena persepsi yang keliru. Padahal, kata dia, kurban merupakan ibadah sebagaimana sabda Rosul “sembelihlah dengan rahmat” maka hal ini seharusnya dilakukan dengan baik atau menyembelih dengan tidak memperlakukan kasar ternak sembelihan, tidak mempertontonkan sembelihan satu dengan lain, tidak di area terbuka yang dapat ditonton anak-anak di bawah umur. 

“Hal ini masih tidak bisa tertata dengan baik sehingga pelaksanaannya cenderung mendapatkan konotasi negatif sehingga ibadah kurban terkesan menjadi kegiatan negatif mencemari lingkungan, kekerasan terhadap hewan kemudian edukasi negatif terhadap generasi anak sekolah. Ini harus dihapuskan bukan ibadahnya yang salah tapi yang salah tata laksananya ibadah kurban adalah sunah, menjaga kebersihan wajib,” katanya.

Ia berpendapat, jika hal itu dikelola dengan baik sebenarnya tidak sulit hanya butuh pelatihan, informasi dan edukasi tentang cara menyembelih dengan baik. Ia menganggap perlunya memberikan solusi terkait peralatan yang digunakan untuk melakukan kurban di sarana umum.

Baca Juga : Permudah Administrasi, Pasar Jaya Luncurkan E-Office dan AMS

“Misal apa susahnya menyediakan meja potong toh bukan nilainyg tinggi namun selama ini alasan keterbatasan tempat tapi tidak dicarikan solusi, di selokan sampai 2-3 minggu sisa darah gumpalan masih tersisa berceceran bahkan bakteri sangat berbahaya sekali,” katanya.

Juleha sendiri menyediakan meja potong hewan dan tahun ini sudah berkomitmen akan membagikan 100 meja potong gratis. “Dengan harapan akan disebarkan ke masjid, sekolah, dan panitia kurban di Jabodebatek dan sekitarnya harapannya Jakarta menjadi sentra informasi yang bisa dicontoh oleh kota lain di seluruh Indonesia,” katanya.

Sebagai pendiri Juleha, ia aktif merumuskan tata laksana kurban penyembelihan halal disinkronkan dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia dan Kementan yang kini sudah mulai terbentuk dengan utuh. “Dan ke depan kami harapkan Indonesia bisa menjadi kiblat sertifikasi juru sembelih sehingga Juleha bisa sertifikasi juru sembelih halal di Indonesia,” katanya.

Pihaknya berharap, pemerintah mendukung perizinan baik dari sisi organisasi dan mengeluarkan sertifikasi sekaligus memfasilitasi kerja sama dengan lebih banyak pihak agar Juleha bisa diakses lebih banyak masyarakat. [DWI]