Gelar Bimtek Di Kabupaten Magelang

Kemenperin Poles Cara Berbisnis Penerima Bansos

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Memiliki sumber daya alam yang kaya menjadi keuntungan tersendiri bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang jeli dan kreatif. 

Untuk itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) menggelar bimbingan teknis (bimtek) wirausaha IKM makanan dan IKM kerajinan bambu di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Salah satu tujuan kegiatan ini untuk mendorong tumbuhnya wirausaha baru. 

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih menjelaskan, Bimtek diselenggarakan untuk keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga sebagai tindak lanjut MoU antara Kemenperin dan Kementerian Sosial (Kemensos). 

“Melalui kegiatan bimtek, para penerima manfaat program PKH di Magelang dapat menjadi wirausaha baru yang sukses, dengan menerapkan nilai-nilai kemandirian, memiliki etos kerja tinggi, serta kreatif dan inovatif. Mereka lulus dari program PKH tersebut dan bisa menjadi produktif,” ucapnya dalam keterangan resmi yang diterima Rakyat Merdeka

Berita Terkait : Kemenperin & Kemensos Bikin Diklat Wirausaha KPM PKH

PKH merupakan program perlindungan sosial yang diinisiasi oleh Kemensos, dengan tujuan membantu keluarga miskin dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. 

Guna meningkatkan kemampuan mereka dalam berwirausaha, Kemenperin telah menggelar bimtek untuk menjadi pelaku IKM makanan dan IKM kerajinan bambu. 

Kegiatan ini diikuti 60 perserta, terdiri dari 30 orang penerima bantuan sosial (bansos) yang mendapatkan fasilitas bimtek cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) dan kemasan. Sedangkan, 30 penerima PKH lainya yang berasal dari Kecamatan Borobudur mengikuti pelatihan teknis produksi kerajinan bambu. 


Gati optimistis, para calon wirausaha baru IKM tersebut akan berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara khusus di Magelang, hingga tingkat ekonomi nasional. Apalagi Kabupaten Magelang memiliki beraneka ragam produk makanan ringan. 

Baca Juga : Sekjen MPR: Internalisasi Pancasila Perlu Digencarkan

“Yang perlu ditingkatkan lagi adalah pengemasan produknya, sehingga membuat harga jualnya dapat lebih tinggi dan bisa memperluas akses pemasarannya. Selain itu, potensi kerajinan bambu memang perlu dimanfaatkan secara maksimal,” imbuh Gati. 

Selain bimtek peningkatan kemampuan SDM, sambungnya, para peserta juga mendapat fasilitasi mesin dan peralatan penunjang perbaikan mutu produk pangan, seperti perekat kemasan (sealer), peniris minyak, serta mesin dan peralatan untuk peningkatan kapasitas produksi kerajinan bambu. 

“Setelah mengikuti kegiatan ini, dengan mendapatkan materi-materi pelatihan yang beraneka ragam, kami meyakini para peserta PKH bisa tergugah keinginan dan idenya untuk berwirausaha, dan akan muncul wirausaha-wirausaha yang tangguh,” tuturnya. 

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Magelang Endot Sudiyanto menuturkan, harapan tumbuhnya wirausaha baru yang tangguh itu untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di Kabupaten Magelang. “Kami ingin masyarakat Magelang menjadi pemain baru dalam bisnis lokal maupun global,” tuturnya. 

Baca Juga : Sistem Pembelian Tebu Kementan, Bikin Petani dan Pabrik Gula Maju

Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang Retno Indriastuti menyebut, program PKH rata-rata bisa mengentaskan 10 sampai 20 keluarga dari kemiskinan setiap bulannya. 

“Di 2018, terdapat 54.288 keluarga penerima manfaat PKH. Angka tersebut terus turun setiap bulannya. Saat ini, antara 10 hingga 20 keluarga dapat dientas dari kemiskinan,” ujarnya. 

Adapun komponen keluarga penerima manfaat PKH antara lain, balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, lansia serta anak sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. [DWI]