Selamatkan Sungai Citarum Dari Kedangkalan

Indra Sulap Eceng Gondok Menjadi Tas Dan Sandal

Klik untuk perbesar
Para perajin anyaman eceng gondok tengah sibuk di workshop milik Indra. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seni kerajinan tangan anyaman tak pernah lekang oleh waktu. Saat ini, permintaannya kian signifikan. Tak heran beragam jenis anyaman kreasi seni ini menjadi potensi ekonomi bagi pelakunya.

Di 2017, nilai ekspor kerajinan mencapai 776 juta dolar AS atau setara Rp 10,8 miliar. Angka ini naik 3,8 persen dari 2016 sebesar 747 juta dolar AS (Rp 10,4 miliar). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), di 2015 ada sekitar 695 ribu industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), barang anyaman dari rotan, bambu, serta sejenisnya muncul dan mulai menyasar pasar global.

Indra Darmawan (47) salah satunya. Dia mampu menyulap eceng gondok menjadi produk yang bernilai ekonomis. Dia mengubah tanaman gulma di perairan itu menjadi tas dan aneka kerajinan lainnya.

Selama ini eceng gondok dipandang sebagai salah satu penyebab kian mendangkalnya Sungai Citarum. Itu mengapa eceng gondok kerap kali dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sampah.

Namun bagi Indra, tak ada yang sia-sia dari alam yang diciptakan Tuhan, termasuk eceng gondok. “Eceng gondok yang ada biasanya diangkut dari sungai dan dibuang. Padahal bisa diberdayakan dan diproses bernilai jutaan,” ucapnya saat ditemui Rakyat Merdeka.

Berita Terkait : Kementan Dukung Mataram Kembangkan Kawasan Sayuran Perkotaan

Jika akarnya semakin panjang ke tanah, bisa terjadi sedimentasi. Eceng gondok juga menyerap oksigen di dalam air dan menutupi cahaya matahari, sehingga ikan dan makhluk hidup lainnya bisa terancam.

Namun, sambung Indra, eceng gondok memiliki fungsi menyerap racun yang berada di dalam air. Sehingga dia berpendapat, tanaman ini jangan dimusnahkan, tapi harus dikendalikan penyebarannya “Akhirnya saya mulai membuat tas dari eceng gondok dengan melibatkan masyarakat sekitar, yang kami beri pelatihan sebelumnya. Usaha ini berbuah manis,” imbuhnya.

Dari kerajinan eceng gondok ini, dia membuat berbagai kerajinan, seperti tas/clutch, sling bag, tempat tisu, meja maupun sandal. Untuk satu tas, bisa dijual dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu. Dalam sebulan, bisa diproduksi 100-200 buah tas eceng gondok yang dijual secara online atau offline.


“Omzet dalam sebulan, Alhamdulillah bisa mendapat lebih dari Rp 10 juta. Tapi itu tergantung,” katanya.

Indra mengatakan, kerajinan eceng gondok merupakan salah satu upaya melestarikan Sungai Citarum, yang dilakukan Indra bersama Yayasan Bening Saguling Foundation.

Berita Terkait : Malam Ini, Ahsan-Hendra Siap Menjadi Juara Dunia

“Kami ingin masyarakat lebih peduli dengan Citarum, kami berdayakan masyarakat dan Citarum akan menjadi lebih lestari,” katanya.

Dia pun rutin memberikan sosialisasi dan berbagai pelatihan, bahkan warga mancanegara yang ingin belajar membuat kerajinan dari eceng gondok juga dia layani. “Zero waste, eceng gondok bisa menjadi atap, tempelan bilik bambu dan juga pot untuk tanaman aquaponik,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pihaknya memiliki saung bambu yang salah satu bahannya menggunakan eceng gondok. Lembaga pemberdayaan yang diinisiasi sejak 2014 ini terus berkembang, hingga akhirnya tercipta sekolah alam.

“Sekolah alam ini untuk tingkat TK dan SMP, anak-anak diajarkan untuk produktif dan mencintai alam. Awalnya yang ikut hanya anak pemulung dan keluarga tidak mampu, namun sekarang yang umum juga ada, dan yang mampu harus membayar,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menargetkan ekspor produk industri kecil menengah (IKM), termasuk anyaman ini bisa tumbuh 10 persen. Produk IKM tersebut diharapkan bisa menyasar pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Berita Terkait : Inggris dan Iran Makin Memanas

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, produk IKM memiliki segmentasi pasar yang spesifik karena pasar dari kedua negara tersebut bisa menerimanya.

“Untuk IKM yang produknya segmented, pasar Amerika dan Eropa yang bisa menerima produk lebih spesifik, khususnya yang kerajinan (craft),” ujarnya.


Menurut Gati, industri anyaman memiliki peluang ekonomi yang baik lantaran permintaannya selalu meningkat. Anyaman tersebut terutama dijadikan sebagai hiasan, koleksi hingga kemasan makanan. [DWI]