Nggak Terpengaruh Kekeringan

Petani Cabe di Cianjur dan Sukabumi Masih Mampu Pasok Jakarta 10 Ton Per Hari

Klik untuk perbesar
Dirjen Hortikultura, Suwandi (kedua kiri) saat dialog dengan para petani, di Desa Gekbrong, Cianjur, Selasa (23/4). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pasokan cabe dari Cianjur ke Jakarta dipastikan aman.‎ Para petani di wilayah Cianjur ini tetap mampu berproduksi tinggi kendati mengalami kekeringan.

Kabid Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Hasan, mengatakan bahwa produksi cabe di daerahnya tetap surplus kendati terjadi kekeringan. "Produksi cabe kita masih surplus bahkan kita masih mampu pasok ke Jakarta diatas 10 ton per hari," katanya saat membuka dialog dengan petani cabe yang dihadiri Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi di Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Cianjur, Selasa (23/7).

Memang, kata dia, harga cabe saat ini masih tinggi. Untuk cabe keriting saja harga masih berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 47 ribu per kilogram. Namun, menurutnya, harga tersebut masih terbilang wajar karena memang permintaan dari pasaran saat ini cukup tinggi. 

Berita Terkait : Kadin: Sektor Pangan Penyumbang Tertinggi PMDN Rp 7 Triliun

"Biasanya karena hukum suplai demand saja. Selain itu konsumsi masyarakat sedang tinggi karena biasanya di bulan-bulan ini juga banyak hajatan. Mulai dari bulan Syawal (Lebaran) sampai Muharram ini banyak hajatan di masyakat tinggi sehingga konsumsi meningkat. Tapi (harga tinggu) bukan karena kekeringan," tambah pria yang akrab disapa Abah ini.


‎Ketua Kelompok Tani Gede Harapan Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Uden Suherlan, mengatakan bahwa kunci pertanian di Cianjur saat ini sehingga petani cabe bisa tetap berproduksi tinggi meski musim kemarau karena ada irigasi yang baik. "Tapi agar lebih maksimal, produksi lebih meningkat, ada bantuan untuk program pipanisasi karena sumber air di sini ada," katanya.

Uden menuturkan, petani di wilayahnya memproduksi beraneka sayuran dan cabe. Selain cabe keriting, salah satu komoditas yang menjadi unggulan di Gekbrong adalah cabe paprika. ‎"Jadi peluang usaha disini bagus," katanya.

Berita Terkait : Kementan Serap dan Olah Kedelai Lokal Petani Garut dan Cianjur

Salah satu kunci kesuksesan petani di wilayahnya adalah efisiensi produksi. Salah satu upaya menekan biaya produksi para petani adalah dengan menggunakan pestisida alami. "Kalau dulu biasanya per hektar Rp 90 hingga 100 juta, sekarang dengan pestisida alami bisa pangkas 25 persen menjadi Rp 70 hingga 75 juta," tambah dia.

Di tempat yang sama, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, mengatakan bahwa selain Cianjur, petani di Sukabumi juga masih mampu memasok cabe di atas 10 ton perhari. Kepastian tersebut diperoleh setelah pihaknya menggelar rapat koordinasi dnegan Dinas Pertanian, pelaku usaha dan perwakilan petani cabai di Sukabumi, Senin (22/7) malam.

"‎Saya kan hitungnya secara makro. Kalau dari Cibiting saja sudah masuk 25 truk (cabe) ya berarti pasokan aman. Kalau kurang dari 25 truk berarti harga akan naik," kata Suwandi.

Berita Terkait : Ditjen Pangan Genjot Ekspor dan Investasi bidang Tanaman Pangan


Namun demikian, dia berharap kenaikan harga cabe ini bisa disikapi dengan baik. Toh, petani juga saat ini bisa menikmati harga cabe yang ada saat ini. "(Gejolak harga) jangan cemas. Seluruhnya mesti disikapi baik. Masih ada tugas lain untuk buat pertanian lebih efisien lagi dengan hasil lebih bagus. Kalau bagus manfaatnya kan buat petani juga. Jangan sampai kalah. Biaya produksi yang serendah-rendahnya dengan hasil (produksi) setinggi-tingginya," tambah dia. [KAL]