Transformasi Koperasi

Klik untuk perbesar
Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didamping Deputi Bidang Pengembangan SDM Rulli Nuryanto meninjau perajin UKM Banyuwangi. (29/02/2019).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hasil dari Reformasi Total Koperasi juga mampu meningkatkan kualitas koperasi. Hal itu dibuktikan dengan Kospin Jasa Pekalongan melalui anak perusahaan mereka, PT Asuran si Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi (JMAS), yang mampu menggelar aksi korporasi berupa pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kospin Jasa sebagai koperasi pertama yang melantai di bursa efek. Awal usahanya adalah batik pada 1998, yang kini memiliki banyak lini usaha. Puspayoga menyatakan, melantainya anak usaha Kospin Jasa, PT Jmas, merupakan langkah awal untuk mengantar- kan koperasi lainnya. Saat ini Menkop mengaku tengah menyiapkan tujuh perusahaan milik koperasi, yang dinilai memiliki potensi besar.

“Kalau sudah terbuka itu kan milik masyarakat, siapapun boleh beli sahamnya. Beda dengan PT, pengambilan keputusan ada di pemegang saham terbesar. Kalau koperasi yang memutuskan semua anggota, jadi demokrasi ekonomi ada di sana. Koperasi tidak mungkin bisa masuk bursa efek, tetapi anak usahanya bisa,” terang Puspayoga.

Selain itu, kini juga koperasi yang semakin besar dan dipercaya sebagai penyalur kredit usaha rakyat (KUR). Koperasi bisa mendapat kepercayaan menyalurkan KUR, karena koperasi itu meningkat kualitasnya. Sekarang sudah ada tiga Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang telah menjadi penyalur KUR. Di Pulau Jawa, ada satu koperasi sebagai penyalur KUR, yaitu KSP Kospin Jasa di Pekalongan, Jawa Tengah. Dan Kopdit Obor Mas di Maumere Nusa Tenggara Timur, serta kSP Guna Prima Dana asal Badung, Bali.

“Dulu kan belum ada koperasi penyalur KUR. Karena memang tidak gampang untuk itu. Koperasi perlu baik kualitasnya dan harus sehat. Sistem teknologi dan informasinya harus terintegrasi dan disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Keuangan, serta Bank Indonesia,” beber Puspayoga lagi.

Berita Terkait : Ajarkan Anak Perilaku Anti Korupsi, Sekarang Juga

Untuk saat ini ada sekitar 20 koperasi di Indonesia yang telah terdaftar mengajukan sebagai penyalur KUR ke OJK. Dalam perkembangannya, ada beberapa koperasi yang memiliki peluang besar disetujui atau direkomendasi oleh OJK sebagai penyalur KUR.

Untuk menjadi KUR, koperasi wajib memenuhi persyaratan yang ditetapkan OJK dan Bank Indonesia. Di antaranya kredit bermasalah (NPL/non performing loan) di bawah 5 persen, portofolio kredit di atas 5 persen, dan memiliki sistem online yang terhubung dengan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP). Koperasi tersebut juga harus melakukan kerja sama pembiayaan dengan Kemenkop dan UKM sebagai Kuasa Peng- guna Anggaran (KPA).

Selain masalah akses permodalan, Menteri Puspayoga juga berhasil mengakomodir keluhan para wirausaha di seluruh Indonesia, dengan penurunan tarif PPH Final dari 1 persen menjadi 0,5 persen bagi pelaku koperasi dan UMKM (KUMKM), yang memiliki omzet brutto maksimal Rp 4,8 miliar per tahun. Melalui berbagai langkah pengembangan tersebut, maka dapat dilihat sangat banyak koperasi yang berhasil ber- transformasi hingga menjadi badan usaha yang berdaya saing tinggi.

Selain Kospin Jasa, ada Koperasi Karyawan Telkomsel (Kisel) yang merupakan contoh koperasi modern yang telah memiliki 5 anak perusahaan yang bergerak di 3 sektor bisnis utama, yakni Sales & Channel, General Services, dan Telco Infrastructure Services.


Kisel telah membuka 11 kantor wilayah dan 42 kantor cabang. Kisel kini memiliki aset sebesar Rp 6 triliun. Belum lama ini Kisel mampu menerobos ranking 100 besar koperasi dunia, menurut World Cooperative Monitor (WCM).

Berita Terkait : Kembangin Koperasi Perikanan, KKP Gandeng JICA 

Kisel didapuk pada urutan ke-94 dunia dari 300 koperasi besar dunia. Berdasarkan kategori, Kisel menduduki peringkat pertama untuk kategori Other Services atau jasa lainnya. Di kategori ini, Kisel mengungguli Seletour dari Perancis dan Koperasi Permodalan Felda Malaysia Berhad.

“Amerika Serikat adalah negara kapitalis. Akan tetapi, 100 dari 300 koperasi besar dunia berasal dari Amerika Serikat,” tutur Puspayoga.

Koperasi berkinerja kinclong lainnya adalah KWSG atau Koperasi Warga Semen Gresik, yang merupakan salah satu koperasi yang berkembang menjadi lembaga multibisnis. Saat ini KWSG memiliki berbagai unit bisnis, pabrik fiber cement “Gress Board”, Ritel Resto, Unit Simpan Pinjam, Perdagangan Umum, ekspedisi dan Perdagangan Bahan Bangunan.

Pada 2017, KWSG mencatat pendapatan Rp 2,5 triliun dengan total aset Rp 1,2 triliun serta membagikan SHU Rp 7,4 miliar. Puspayoga menyatakan, Ke- menkop UKM konsisten melak- sanakan Reformasi Total Koperasi dan mengajak semua gerakan koperasi, pemerintah terus menjaga sinergi positif yang sudah ter- jadi selama ini. Sehingga koperasi menjadi kuat dan mampu meningkatkan peran dalam pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Pelatihan SDM Dalam empat tahun terakhir Kemenkop telah menjadikan kewirausahaan sebagai agenda prioritas untuk mengejar ketertinggalan kewirausahaan Indonesia dari negara lain. Untuk itu diselenggarakan Program Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) dan Gerakan Mahasiswa Pengusaha (GMP). Melalui dua gerakan ini diberikan pelatihan bagi 117.864 mahasiswa, sarjana, dan generasi muda serta kelompok masyarakat strategis lainnya.

Berita Terkait : Transparansi MK

Selain itu Kemenkop juga memberikan fasilitasi modal bagi 9.687 wirausaha pemula. Menurut Puspayoga, pada 2014, rasio wirausaha di Tanah Air baru 1,55 persen, kemudian meningkat menjadi 1,65 persen di 2016, dan bergerak ke 3,1 persen pada akhir 2017. “Angka itu sudah di atas standar internasional yang mematok 2 persen. Jadi sudah pecah telur,” ujar Menteri Puspayoga.

Tahun ini Kemenkop berencana untuk lebih fokus dan memprioritaskan bentuk pelatihan kewirausahaan untuk bidang vocational. Untuk itu Kementerian lebih memperbanyak praktik ketimbang teori-teori, dengan proporsi 70 30. Pelatihan kewirausahaan dan perkoperasian akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk program 2019 ini, pengembangan kewirausahaan akan menyasar 8.790 calon wirausaha melalui pemasyarakatan kewirausahaan, pelatihan kewirausahaan, pelatihan technopreneur, dan kewirausahaan sosial.

Tak hanya itu, Kemenkop pun akan melakukan peningka- tan kualitas SDM KUKM bagi 3.500 pelaku UMKM melalui pelatihan vokasi. Yang tak kalah penting, un- tuk 2019 ini Kemenkop akan meningkatkan pengembangan SDM usaha mikro dan kecil bagi 500 pemuda melalui fasilitasi magang. Lebih lanjut Menkop merinci, tahun ini pihaknya akan menggelar program magang tersebut di lima provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Yogjakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, dengan masing-masing provinsi sebanyak 100 orang.

Di samping itu, Kemenkop juga akan menggelar program peningkatan kualitas SDM kope- rasi bagi 4.530 pelaku koperasi melalui pelatihan perkoperasian, hingga peningkatan standarisasi dan sertifikasi bagi 2.010 pelaku koperasi dan UMKM melalui pelatihan dan uji sertifikasi kompetensi SDM KUKM.”Juga peningkatan kapasitas pengelola LKM berbasis kompetensi dan pelatihan manajemen SDM KUKM berbasis kompetensi,” tutup Menkop.*