Dorong Aktivitas Ekonomi di Kawasan Wisata Lumajang

BRI Guyur Modal Agar UMKM Makin Naik Kelas

Klik untuk perbesar
Ibu-ibu nasabah PNM Mekaar penerima KUR BRI saat memamerkan buku tabungan BRI di Lumajang, Jawa Timur, kemarin. (Foto: Humas BRI).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kawasan Danau Ranu Pane menjadi salah satu daerah wisata di Lumajang, Jawa Timur. Potensi ekonomi di kawasan ini tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk itu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menggaet PT Permodalan Nasional Madani (Persero) berupaya mendorong pelaku UMKM Lumajang untuk bisa naik kelas.

Kemarin, warga Lumajang yang merupakan warga Bromo Tengger, kaki Gunung Semeru hingga sekitaran Danau Ranu Pane memadati proses pemberian KUR Mikro BRI ke nasabah UMKM, yang sebagian besar merupakan nasabah binaan PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). 

Baca Juga : Kodim 0734 Ajak Masyarakat Jogja Kawal NKRI

Setidaknya ada total sekitar 50 nasabah Mekaar yang siap menerima KUR. Jenis usaha mereka pun cukup beragam, mulai dari usaha pertanian, sembako, makanan ringan hingga penyewaan homestay di Danau Ranu Pane. Salah satu nasabah PNM Mekaar yang naik kelas adalah Riwayati (41).

Pemilik usaha sembako sejak 2012 ini mengaku senang, akhirnya ia bisa naik kelas dari yang tadinya nasabah PNM Mekaar ultra mikro, menjadi nasabah KUR BRI. Menurutnya, dengan naik kelas usaha itu, membuat usahanya kian berkembang. 

Baca Juga : Ketemu Dubes Arab, Menhan Tak Bicara Soal Rizieq

“Bukan hanya plafon kredit yang lebih besar. Tentunya jumlah omzet juga makin meningkat,” ucapnya saat ditemui Rakyat Merdeka di Lumajang, Jatim, kemarin. 

Ibu dua anak ini melanjutkan, semula saat menjadi nasabah PNM Mekaar, ia hanya diberikan plafon pinjaman sebesar Rp 2-3,5 juta dalam jangka waktu tiga tahun. Seiring dengan meningkatnya jumlah usaha dan omset, kini ia menjadi nasabah KUR BRI Mikro dengan plafon hingga Rp 25 juta tanpa jaminan. 

Baca Juga : Kerja Diambil Alih Robot, Pekerja Bisa Lakukan Ini

“Saya diberi KUR sebesar Rp 8 juta dengan tenor 1,5 tahun. Meski plafonnya naik, tapi iuran atau bunganya tambah kecil. Dari iuran Rp 50 ribu seminggu, sekarang hanya Rp 20 ribu per minggu,” rincinya. Dengan tambahan modal KUR tersebut, Riwayati ingin sekali memperluas usahanya. “Kalau dulu saya cuma jualan sembako, sekarang bisa jualan pulsa, bensin eceran, sampai dagang pakaian juga,” tuturnya. 

Begitu pula dengan omzet, yang tadinya ia hanya mendapat untung Rp 1,5-2 juta per bulan, kini bisa naik 2-3 kali lipat atau mencapai Rp 2,5-3 juta per bulan. Ia mengaku sangat bersyukur dengan perkembangan usahanya. Ke depan ia berharap, jumlah plafon pinjaman KUR bisa meningkat, seiring dengan meningkat pula usahanya. 
 Selanjutnya