Canggih, Petani Sukoharjo Gunakan Drone untuk Tabur Pupuk 

Klik untuk perbesar
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyaksikan uji coba drone untuk sebar benih di Desa Dalangan, Kecamatan Tawang Sari, Sukoharjo, Jawa Timur, Senin (30/1). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bersama petani serta warga Sukoharjo, menggunakan teknologi canggih drone untuk tabur pupuk dan benih padi di sawah petani. Inovasi teknologi canggih ini digunakan untuk uji coba demonstrasi teknologi mekanisasi pertanian di era revolusi 4.0.

Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, yang turut menyaksikan demonstrasi teknologi alsintan langsung meminta semua alat yang digunakan untuk ditinggalkan di Sukoharjo. "Pak Mentan, semua alsintan yang sudah kita uji coba tadi, tinggalkan semua disini" ungkap Wardoyo saat berikan sambutan di persawahan Desa Dalangan, Kecamatan Tawang Sari, Sukoharjo, Senin (30/9).

Mendengar hal itu, Amran langsung  memerintahkan Direktur Alsintan untuk meninggalkan alsintan yang digunakan. "Pak Direktur berapa alat mesin pertanian yang dibawa ke sini? Tinggalkan semua di sini. Saya senang bila ini bermanfaat dan digunakan," ungkap Mentan.

Berita Terkait : Salak Pondoh Sleman Diekspor Sampai Kanada

Mentan mengatakan, modernisasi pertanian ini sekaligus juga sebagai persiapan untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0, dengan target utama peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian. Teknologi pertanian dikemas dalam bentuk mekanisasi 4.0, yang sekaligus menjawab tantangan revolusi industri 4.0 disegala bidang.

"Dulu petani berpikir bertani itu kotor. Petani miskin. Dulu petani panen pakai sabit hingga 20 hari. Mamun hari ini, cuma cukup 3 jam dengan alsintan," ucap Amran.

Lebih lanjut, Amran menyampaikan beberapa karya Kementerian Pertanian untuk membangun mekanisasi 4.0. Yaitu  drone penebar benih padi, drone penebar pupuk prill, drone sprayer untuk aplikasi pestisida, robot tanam padi, autonomous tractor, dan mesin panen plus olah tanah yang terintegrasi. Keenam alsintan tersebut diciptakan sebagai solusi petani dalam melakukan usaha tani modern.

Berita Terkait : RI dan Kolombia Perkuat Perjanjian Dagang

"Kami hemat Rp 1,4 triliun untuk anggaran alsintan. Kita alokasikan semua ke petani, tujuannya supaya anak muda alumni fakultas pertanian mau bergerak di dunia pertanian," ucapnya. 

Menyaksikan kecanggihan alsintan yang dipergunakan, Amran juga minta anggaran ditambah untuk bantuan petani. "Tolong robot tanam padi dianggarkan lebih besar supaya petani lebih cepat," tuturnya.

Sulistio, petani Desa Ngarap, mengungkapkan jika saat ini sawah mereka diairi dari sungai di desa yang kondisi airnya kurang baik. Kelompoknya sudah punya 100 hektar sawah padi organik, dan beras organik yang bisa bertahan hingga 48 jam. "Usulnya Pak, mohon buatkan kami sumur air di tempat kami," ungkapnya. 

Berita Terkait : Pertemuan Tertutup Prabowo dengan Dubes AS dan Saudi

Mentan menyambut positif kerja keras Sulistio dan kawan-kawan. Bantuan sumur dangkal dan pompa langsung diminta berikan melalui Direktur Alsintan. [KAL]