Kemarau Panjang, Petani Cabe di Gunung Kidul Malah Untung

Klik untuk perbesar
Petani cabe di Gunung Kidul. (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa beberapa bulan terakhir menjadi kendala bagi para petani. Rata-rata petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan sumber air. Berbeda halnya di Gunung Kidul, musim kemarau justru bukanlah halangan. Saat kemarau melanda, para petani hortikultura di wilayah pegunungan selatan DIY tersebut justru menikmati keuntungan.

Kok bisa? Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Kidul, Budi Sudartanto, mengamini hal tersebut. Sebagian besar wilayah Gunung Kidul sekarang sudah bisa tanam hortikultura dengan mengandalkan air dari sumur pantek atau sumur bor.

Berita Terkait : Manisnya Si Gincu Merah Asal Indramayu

"Terlebih dengan adanya bantuan dari Ditjen Hortikultura Kementan, beberapa petani bahkan berani berinisiatif membuat sumur bor sendiri di lahan agar hasil panennya lebih optimal," kata Budi, Rabu (2/10).

Menurut Budi, tahun ini pihaknya menerima alokasi pengembangan kawasan cabai dari Ditjen Hortikultura seluas 20 hektare. "Semuanya sudah terealisasi, bahkan sudah ada yang panen. Dalam kondisi normal, produktivitas panen cabe di sini bisa mencapai 15-18 ton per hektare. Kalau lagi bagus-bagusnya bisa mencapai 20 ton per hektare," terangnya.

Berita Terkait : Salak Pondoh Sleman Diekspor Sampai Kanada

Sum, anggota Kelompok Tani Mayang Sari Desa Ngawu, Kecamatan Playen, mengaku senang mendapat bantuan pengembangan cabe dari pemerintah. "Pada dasarnya saya memang senang tanam cabai karena untungnya banyak. Hasilnya bisa bantu biaya sekolah anak," ujarnya sambil memanen cabenya. 

Meskipun kemarau, kondisi tanaman cabe miliknya tampak subur dan nyaris tidak ada serangan penyakit. Sum mengaku, produksi cabe miliknya terbilang optimal, sekali petik bisa mencapai 100 kilogram dari setiap seperlima hektare.

Berita Terkait : RI dan Kolombia Perkuat Perjanjian Dagang

"Harganya kok ndilalah juga bagus, yakni Rp 25 ribu per kilogram. Sangat menguntungkan, lha wong kalau saya itung biaya pokok produksinya jatuhnya cuma Rp 5 ribu per kilogram," ungkapnya sumringah. [KAL]