Penuh Trik, Petani Cabe di Jambi Optimalkan Lahan Tidur

Klik untuk perbesar
Lahan pertanian cabe di Desa Sungai Duren, Kecamatan Jambi, Kabupaten Muaro Jambi. (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Keterbatasan teknologi tidak menyurutkan semangat para petani. Dengan kemampuan seadanya mereka berusaha memaksimalkan lahan usaha taninya. Berbekal keinginan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, petani mencari berbagai cara untuk  mengolah lahan menjadi lebih produktif. 

Chozin, Ketua Kelompok Tani Subur Mulyo, di Desa Sungau Duren, Kecamatan Jambi Luar, Kabupaten Muaro Jambi, mengungkapkan, bahwa di wilayahnya masih banyak lahan tidur milik orang kota yang belum termanfaatkan karena keterbatasan tenaga kerja dan teknologi. Saat ini Chozin tengah menggarap lahan 4 hektare lahan untuk bertanam cabai, ketela pohon, kacang panjang dan sayuran lainnya. Kondisi tanamannya tetap terawat meskipun kekurangan air. 

Tinggal di pedesaan dengan kondisi terbatas, Chozin adalah sosok petani milenial inspiratif. Lahan pertanian sempit itu ia kelola bersama sang istri.  Luasan 1 hektare ditanami cabe, 2 hektare ditanami ketela pohon dan sisanya daun ubi dan pisang batu.

Berita Terkait : Tertibkan Truk Odol, Pemerintah Satukan Kekuatan

Selain mengandalkan hasil tanaman cabe, ia mendapatkan penghasilan dari ketela pohon seharga Rp 2.500 per kg. Sementara daun pucuk ubi dia jual Rp 1.000 per ikat. Per hari dirinya bisa menjual sebanyak 60 ikat. Selain itu ia juga menanam pisang batu yang dapat dijual daunnya. Sehari terjual 70 lembar dengan harga Rp 1.750 per pelepah. Ia mengatur pola tanam supaya tidak terjadi kekosongan produksi dari berbagai komoditas tersebut. 

“Triknya adalah mampu mengatur jadwal tanam dan panen yang sekiranya bisa berputar mengisi kas keluarga. Selalu berfikir efisien dalam melakukan teknik budidaya yang terukur waktunya dan tidak mudah menyerah dengan keadaan walau modal terbatas,” jelas Chozin.

Kepala UPTD sekaligus Koordinator Penyuluh setempat, Sri mengungkapkan bahwa Kelompok Tani Subur Mulyo merupakan salah satu kelompok yang mendapatkan alokasi APBN 2019 untuk pengembangan kawasan cabe. Dari semua komponen bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi petani. 

Berita Terkait : Siapkan Solusi Terbaik, Menteri Edhy Intensifkan Komunikasi Dengan Stakeholder

“Semua bantuan sangat dirasakan manfaatnya, khususnya likat kuning. Sebelumnya petani hanya menggunakan botol yang dicat dan diitempeli dengan lem pabrikan,” ungkapnya. 

Petani lain, Erwin, asal Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Alam Barajo sudah mengenyam asam garam dan manis pahitnya bertani cabe. Mulai dari belajar tanam hingga gagal panen pernah dialaminya. Dirinya pernah sukses menghasilkan puluhan juta  sekaligus merasakan rugi ratusan juta. Meskipun demikian tidak pernah ada kata jera menanam cabe. 

“Ini sudah panggilan jiwa dan garis tangan kami ada di kebun. Kami melalui hari-hari dengan bercocok tanam dan sekarang sudah mulai pintar walau soal hasil tetap Allah yang menentukan,” ujar Erwin. 

Berita Terkait : Pemerintah Ajak Swasta Bantu Kembangkan Energi Terbarukan

Erwin mengaku banyak lahan belum termanfaatkan maksimal karena keterbatasan terknologi. Bersama petani lain dirinya berharap bantuan sarana produksi pertanian bisa singgah di lokasinya. 

“Kami berharap pemerintah  dapat memberikan teknologi-teknologi produksi seperti alsin yang dapat menghemat waktu dan biaya pengolahan serta sarana pengendali sarana dan prasarana perlindungan tanaman seperti screen house, parannet, atau kelambu. Selain itu, kami juga ingin adanya jaminan harga supaya petani jangan sampai rugi,” tutup Erwin penuh harap. [KAL]