Sering Dipusingkan Soal Pemasaran

Perajin Asal Baduy Girang Ada Festival Sarung 2019

Klik untuk perbesar
Gubernur NTT Victor Laiskodat (Tengah) bersama Istri Julie Sutrisno Laiskodat (Kiri) saat mengunjungi stand Pameran Festival Sarung Tenun di Kota Kupang, NTT. (Foto : Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Untuk pertama kalinya, Festival Sarung 2019 kemarin digelar di Jakarta. Acara ini diharap bisa melestarikan budaya, sekaligus mengangkat potensi bisnis. Presiden Joko Widodo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk melestarikan budaya kain sarung.

“Inilah kekayaan budaya kita yang harus tempatkan pada tempat yang paling baik, sebagai penghargaan atas karya dan produksi setiap provinsi yang berbeda corak, motif, dan warna. Juga memiliki filosofi-filosofi yang tinggi,” kata Presiden dalam sambutannya pada Festival Sarung 2019 yang digelar di Plaza Tenggara, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, kemarin.

Hadir dalam acara Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf dan Ketua Panitia Sarung Fest 2019 IGK Manila.

Berita Terkait : Kemenpar Apresiasi Pelaksanaan Festival Ulun Danu Beratan

Kehadiran Festival Sarung ini diharapkan juga mampu mendorong budaya sarung makin dikenal, dan menjadi potensi bisnis yang besar. Diakui perajin sarung asal Baduy, Lebak, Banten, Jamal Setiabudi (36). Bagi masyarakat Suku Baduy, menenun sarung sudah merupakan budaya warisan leluhur yang wajib dilestarikan.

“Sudah menjadi tradisi di masyarakat Baduy, setiap anak berusia 9 tahun sudah diajarkan bagaimana menenun sarung. Membuat sarung bagi kami merupakan amanah leluhur,” kata pria yang kerap disapa Kang Jamal ini di acara Festival Sarung di Jakarta, kemarin.

Di setiap acara sakral adat Suku Baduy, memakai sarung merupakan kewajiban. Bahkan, ada ritual khusus yang dijalankan masyarakat Baduy dalam membuat kain sarung. Kang Jamal menjelaskan, sarung khas Baduy dikenal memiliki beberapa motif unggulan. Di antaranya, Samping Poleng, Poleng Hideung (kotak-kotak besar), Poleng Capit Urang (kotak-kotak kecil), hingga motif Janggawari.

Baca Juga : Permudah Administrasi, Pasar Jaya Luncurkan E-Office dan AMS

“Harga sarung khas Baduy berkisar antara Rp 250 ribu hingga yang termahal Rp 1,7 juta yang motif Janggawari,” ucapnya.

Usaha sarung Kang Jamal sudah dimulai sejak muda dan turun temurun. Bahkan, 15 orang perajin sarung yang di bawah naungan Kang Jamal merupakan keluarga dekat. Setiap keluarga di Baduy pasti memiliki kemampuan menenun kain sarung.

“Meski sebenarnya mayoritas masyarakat Baduy itu bertani. Tapi, kemampuan menenun sarung sudah menjadi tradisi yang takkan mungkin pernah hilang,” imbuhnya.

Baca Juga : Akibat Gempa Maluku Utara, Dua Orang luka dan 19 Bangunan Rusak

Ia mengakui, masyarakat Baduy tak memiliki kendala dalam memproduksi kain sarung, termasuk dalam menentukan motif dan coraknya. “Yang masih menjadi kendala para perajin kain sarung Baduy adalah pemasaran. Saat ini, kami benar-benar kebingungan bagaimana cara memasarkan produk sarung tenun khas Baduy ini,” katanya.
 Selanjutnya