RMco.id  Rakyat Merdeka - Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) menggelar Virtual Scientific Meeting 2020 yang berlangsung pada tanggal 18-27 September 2020 melalui platform virtual.

Ketua PERDAMI Pusat, Dr. M Sidik, SpM(K) mengatakan bahwa Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) tahun 2020 merupakan tahun yang bermakna bagi dunia oftalmologi. World Health Organization (WHO) menetapkan 2020 sebagai tahun dimana avoidable blindness tereliminasi secara global, dan hal ini disepakati melalui suatu inisiatif Vision 2020.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

“Untuk menghormati kedua motivasi ini, maka PERDAMI berniat untuk tetap menyelenggarakan suatu acara ilmiah sebagai bentuk kepedulian terhadap komitmen tersebut dan kesejahteraan anggota,”tuturnya.

“Situasi pandemi dan kenormalan baru yang kini sedang terjadi memberikan kendala besar untuk penyelenggaraan pertemuan akbar semacam PIT ini, namun PERDAMI menyambutnya sebagai tantangan. Sumber daya anggota yang kreatif-inovatif, tim dan sistem IT yang solid, serta leadership kepengurusan yang mumpuni, merupakan aset dan modal PERDAMI yang utama,”ucapnya.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

“Dengan kerja keras seluruh tim, pada akhirnya terselenggara acara yang diharapkan menjadi pengganti PIT. Terlahirlah pertemuan ilmiah virtual terbesar pertama yang di selenggarakan oleh organisasi profesi di Indonesia dengan nama Perdami Virtual Scientific Meeting (PVSM) 2020,”imbuhnya.

“Pada seremoni pembuka di hari Sabtu 19 September, Prof DR Dr Nila F Moeloek, SpM(K) menyampaikan plenary lecture tentang leadership Indonesia di kancah internasional, dalam Global Eye Care dan World Report on Vision. Suatu laporan yang membanggakan bahwa Indonesia saat ini menjadi salah satu percontohan dalam upayanya memberantas kebutaan yang dapat dicegah,”terangnya.

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

“Sesi simposium yang berlangung berjumlah tidak kurang dari 20 sesi. Diantaranya sesi yang memberikan nilai continuing medical education (CME) dimana peserta akan memperoleh poin satuan kredit profesi (SKP) sesuai hasil tes CME yang dilakukan diakhir sesi. Poin ini dibutuhkan dokter untuk memenuhi penilaiannya dalam perkembangan ilmu. Didactic course seluruhnya berjumlah 13 course, dan dikelola oleh kelompok seminat PERDAMI. Sesi simposium dan didactic course ini didukung oleh berbagai pembicara yang ahli dalam bidang subspesialisasinya, baik dari dalam maupun luar negeri,”pungkasnya. [ARM]