Kerja Keras Sekber Perlindungan Anak Korban Gempa Pasigala

Kemensos Berhasil Pertemukan Kembali 30 Anak Yang Terpisah Dari Keluarga

Dirjen Rehabilitasi Sosial Anak, Kementerian Sosial, Edi Suharto. (Foto: rri.co.id)
Klik untuk perbesar
Dirjen Rehabilitasi Sosial Anak, Kementerian Sosial, Edi Suharto. (Foto: rri.co.id)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejak tanggal 29 September 2018. Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI telah mendirikan Sekretariat Bersama (Sekber) Perlindungan Anak. Sekber yang berlokasi di Dinas Sosial Provinsi dan Balai Rehabilitasi Sosial Nipotowe, Kota Palu, bekerja sama dengan UNICEF (badan dunia yang mengurusi anak-anak) untuk membantu pemulihan dan rehabilitasi sosial bagi anak-anak korban gempa dan tsunami Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala).

Baca Juga : Bos BPIP Takut Seperti Keledai

Kementerian Sosial juga telah mengerahkan 44 Pekerja Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, atau dikenal dengan Sakti Peksos, untuk memberikan berbagai layanan untuk anak-anak korban gempa Pasigala . “Kemensos berfokus pada tiga hal yaitu Family Tracing dan Reunification (FTR) (menelusuri jejak keluarga yang hilang dan menyatukan kembali dengan keluarga, red), pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap anak (termasuk isu perlindungan anak lainnya), serta layanan dukungan psikososial anak,” terang Dirjen Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial, Edi Suharto.

Baca Juga : Ahok Calon Bos Proyek Ibu Kota Negara, Fakta Apa Hoaks

Salah satu bentuk layanan dukungan psikososial anak adalah mengkoordinasikan dan melaksanakan Kegiatan Pondok Anak Ceria yang berada di 10 lokasi yakni Balaroa, Dolo Selatan, Donggala, Duyu, Gunung Bale, Kawatuna, Lapangan Walikota Palu, Mamboro Boya, Masjid Agung Palu, dan Madrasah Tsanawiyah Al Khairat Mamboro Palu. Data Sekber Perlindungan Anak mencatat, kasus anak yang hilang dan dicari keluarganya berjumlah 118. Pemerintah dan mitra terkait telah bahu-membahu, berusaha membantu anak-anak agar bisa berkumpul kembali bersama keluarga. “Hingga saat ini, kami telah berhasil mereunifikasi 30 kasus anak yang terpisah dengan keluarganya,” tutur Edi. [HES]