Sebelumnya 
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto memastikan, pihaknya berhati-hati dalam me-review PoD Masela. Dia menargetkan semua proses penyusunan draf PoD rampung pada 25 Juni.

“Tim hukum SKK Migas bekerja sama dengan tim hukum Kementerian ESDM. Kami bekerja keras menyelesaikan pembahasan sesuai waktu yang ditetapkan. Mudah-mudahan, pekan depan, usulan sudah kami sampaikan ke Menteri ESDM,” katanya.

Baca Juga : Sabam Sirait: Sekarang Ini Momentum untuk Saling Mengeratkan

Multiplier Effect

Dwi yakin, keputusan pemerintah memilih pengembangan on shore (kilang darat) Blok Masela tepat. Pilihan ini memberikan dampak ekonomi lebih besar ketimbang off shore (lepas pantai).

Baca Juga : Kemenko Marves Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Digital

Dia menerangkan, pengembangan on shore akan memberikan multiplier effect (efek berantai). Antara lain, memunculkan kawasan ekonomi baru, sehingga bisa menggairahkan pembangunan ekonomi di kawasan Indonesia Timur. "Saya yakin, keberadaan kilang on shore akan memunculkan daerah atau kota strategis baru,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, lanjut Dwi, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN), guna mengajukan permintaan lahan terkait pengembangan Blok Masela.

Baca Juga : Menko Polhukam: Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber Segera Dibawa ke Pengadilan

Lahan itu nantinya tidak boleh digunakan untuk kepentingan lainnya. Selain kawasan baru, mantan Dirut Pertamina tersebut menuturkan, keberadan Masela akan menggairahkan industri petrokimia.

Saat ditanya tentang calon pembeli potensial gas hasil produksi Masela, Dwi yakin, Inpex dan Shell bisa mencari buyer. “Setelah Masela berkembang, tentu akan muncul banyak pemain baru untuk menjual gas Masela,” yakin Dwi. ***