Menkes Pimpin Konferensi ke-2 Tingkat Menteri tentang Resistensi Anti-Mikroba

Klik untuk perbesar
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila F Moeloek berpidato dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-2 tentang Resistensi Anti-Mikroba yang diselenggarakan pada 19-20 Juni 2019, di Noordwijk, Belanda. (Foto: Humas Kemenkes)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila F Moeloek bersama Menteri Pelayanan Medis Belanda Bruno Bruins dan Menteri Pertanian, Alam, dan Kualitas Pangan Belanda Carola Schouten telah memimpin bersama Pertemuan Tingkat Menteri ke-2 tentang Resistensi Anti-Mikroba yang diselenggarakan pada 19-20 Juni 2019, di Noordwijk, Belanda.

Didaulatnya Menkes RI oleh Pemerintah Belanda sebagai Co-Chair merupakan penghargaan atas kinerja Pemerintah Indonesia dalam upaya memerangi resistensi anti-mikroba pasca-Pertemuan Tingkat Menteri ke-1 pada 2014. Dalam pidato pembukaan, Menkes Belanda menegaskan bahwa keberhasilan Pertemuan Tingkat Menteri ke-1 yang dipimpin bersama Indonesia dan Belanda telah berhasil meningkatkan upaya memerangi resistensi anti-mirkoba pada tingkat global, regional dan nasional.

Berita Terkait : Simplifikasi Cukai Beratkan Industri Rokok Kecil

Menkes Belanda juga mengapresiasi Indonesia. "Selama 5 tahun terakhir, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Menkes RI telah menunjukkan kinerja positif menangani resistensi anti-mikroba. Karenanya, Pemerintah Belanda kembali meminta Menkes RI memimpin bersama Pertemuan Tingkat Menteri ke-2," ucap Menkes Belanda.


Dalam pidato pembukaan, Menkes RI Nila Moeloek menyampaikan bahwa resistensi anti-mikroba merupakan salah satu tantangan kesehatan yang semakin menarik perhatian para pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan non-kesehatan di tingkat global. "Untuk itu, diperlukan upaya serius dalam penanganan potensi krisis tersebut,” ucapnya.

Berita Terkait : Agrowisata Petik Buah Jeruk di Banjar Tingkatkan Pendapatan Petani

Lebih lanjut, Nila menekankan pentingnya aktualisasi pendekatan One Health untuk melibatkan dan menyatukan seluruh pemangku kepentingan yang mempunyai visi dan tujuan yang sama dalam menanggulangi resistensi anti-mikroba. Pada sesi diskusi interaktif, Indonesia membagi pengalaman dalam implementasi GAP-AMR di rumah sakit Indonesia melalui pemutaran Virtual Reality Video, dengan mengambil contoh praktek di RS Persahabatan sebagai bahan diskusi pembuka. Nila juga turut memberikan pandangan mengenai best practices Indonesia dalam penanggulangan resistensi anti-mikroba serta tantangan yang dihadapi ke depan khususnya dalam kolaborasi multi-sektor dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan. Namun, Nila menegaskan bahwa Pemerintah RI optimis dapat mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional dengan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

Pertemuan Tingkat Menteri ke-2 Resistensi Anti-Mikroba membahas tema “Accelerating Ambitions for Future Health” dan menjadi platform bagi para pemangku kebijakan dari berbagai negara dan pemangku kepentingan lainnya guna membahas kemajuan implementasi WHO Global Action Plan on AMR (GAP-AMR), upaya tripartite WHO, FAO dan OIE dalam mendukung implementasi GAP-AMR, upaya percepatan dan peningkatan kolaborasi lintas sektoral, serta penguatan kerja sama internasional dan peningkatan saling berbagi praktik terbaik dari masing-masing negara dalam mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Anti-Mikroba.

Berita Terkait : Sayuran dan Buah Indonesia Laku Keras di Singapura hingga Eropa

Pertemuan Tingkat Menteri ke-2 Resistensi Anti-Mikroba dibuka oleh Princess Margriet of the Netherlands dan dihadiri oleh 11 menteri kesehatan dan pertanian serta 250 peserta dari 45 negara. Delegasi RI terdiri dari wakil Ditjen Yankes, Ditjen Farmalkes, Badan Litbangkes, Badan PPSDM Kesehatan, serta perwakilan rumah sakit, yaitu: RSUP Kariadi Semarang, RSUP Sanglah, RSPI Sulianti Saroso, RSUP Persahabatan, dan RSUD Soetomo Surabaya. [MRA]