RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjawab kritikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy soal Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang dianggapnya tidak adil dan menghambat program Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Nasir menolak SNMPTN dianggap membatasi hak siswa untuk bisa duduk di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Kami tidak melakukan itu (pembatasan), kami ingin menyaring anak-anak ke depan, mana anak yang punya kemampuan, ada klaster. Yang belum baik akan kita perbaiki, gimana cara memperbaiki,” kata Nasir di Jakarta, kemarin.

Namun demikian, Nasir mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi kebijakan tersebut dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri tahun depan.

Baca Juga : Tanggapi Hasil Survei, Waka KPK Janji Lakukan Koreksi

“Kami akan evaluasi, kayaknya lebih cenderung bagaimana kualitas sekolah. Nanti apakah kuotanya SNMPTN kami turunkan, dan kuota di SBMPTN dinaikan, kita lihat nanti,” kata Nasir.

Seperti diketahui, SNMPTN adalah pola seleksi berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan nilai rapor semester 1 sampai dengan semester 5 bagi SMA/MA dan SMK dengan masa belajar 3 tahun atau semester 1 sampai dengan semester 7 bagi SMK dengan masa belajar 4 tahun.

Penilaian SNMPTN juga dilihat dari indeks sekolah dan prestasi alumni. Tapi inti dari semua penilaian SNMPTN adalah tanpa test. SNMPTN saat ini menyediakan kuota 50 persen dari kapasitas bangku kuliah yang disediakan.

Sedangkan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri(SBMTPN) yakni pola seleksi masuk PTN melalui ujian tertulis yang diselenggarakan serentak oleh PTN.

Baca Juga : KPK Panggil Bupati Kotim Supian Hadi Sebagai Tersangka

Menteri Muhadjir Effendy mengkritik SNMPTN. Gara-gara sistem penerimaan itu membuat banyak orang tua murid berebut masuk sekolah favorit dengan harapan bisa lebih mudah masuk PTN sehingga PPDB berantakan.

Menurutnya, SNMPTN dihapuskan saja. Dia ingin agar siswa masuk ke PTN karena kemampuan individunya bukan karena sekolahnya. Nasir menuturkan, pihaknya meyakini jika nilai siswa semakin bagus maka kualitasnya akan semakin baik.

Pihaknya tetap akan menyaring calon siswa yang berkualitas masuk lewat jalur SNMPTN tetapi dengan kuota yang berbeda. Sementara, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Ismunandar mengungkapkan, pihaknya sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kemendikbud untuk melakukan pembahasan masalah tersebut.

“Kami mendukung kebijakan zonasi ini tujuannya untuk pemerataan pendidikan, tentu kita dukung. Tapi bagaimana implementasinya ini ada irisannya, tinggal bagaimana kita berkolaborasi dan koordinasi,” jelasnya.

Baca Juga : Terapkan Prinsip GCG, Pupuk Kaltim Raih Sertifikasi ISO 37001

Dia memastikan sistem seleksi yang ketat untuk masuk PTN akan tetap diberlakukan. Karena, daya tampung PTN terbatas.

“Daya tampung perguruan tinggi negeri hanya sekitar 400 ribu siswa per tahun sementara calon mahasiswa jutaan,” ungkapnya. [DIR]