Petugas Kesehatan Haji Dibekali Kemampuan Hipnoterapi

Klik untuk perbesar
Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka. (Foto: Humas Kemenkes).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mendekati musim pemberangkatan haji, Kementerian Kesehatan membekali petugas kesehatan Haji dengan kemampuan hipnoterapi. Hal ini untuk menanggulangi satunya untuk terapi gangguan fisik dan psikologis dari peserta haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka banyak peserta haji mengalami kelelahan dan stres sehingga tidak mau beraktivitas atau sebaliknya beraktivitas secara berlebihan.

Hal ini dapat disebabkan karena faktor usia, beratnya prosesi haji, cuaca ekstrim atau ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kondisi jemaah seperti itu tentu butuh penanganan khusus tidak hanya perawatan secara medis.

Beberapa pengalaman yang dialami petugas kesehatan ketika menghadapi jemaah haji yang merasakan kelelahan atau stres.

Berita Terkait : Dirut BPJS Kesehatan Yakini Iuran Baru Tak Beratkan Rakyat

Sementara kemampuan teknis sebagai tenaga kesehatan yang menonjol ialah memberikan tindakan medis dengan pengobatan. Tahun ini, petugas kesehatan haji dibekali dengan kemampuan hipnoterapis.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan kemampuan hipnoterapi, salah satunya untuk terapi gangguan fisik dan psikologis. Para petugas dibekali protokol atau tahapan demi tahapan tindakan yang harus dilakukan untuk menghipnosis orang.


Mulai dari tahap pra induksi, lalu induksi untuk memberikan sugesti yang dapat membawa pasien/klien untuk berpindah dari alam sadar ke setengah sadar.

Dalam kondisi relaksasi, pasien atau jemaah akan dibimbing memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam.

Berita Terkait : Rencana Kenaikan BPJS Kesehatan Harus Pertimbangkan Kemampuan Masyarakat

Pada fase ini bisa diberikan sugesti kesehatan badan atau perasaan gembira atau keadaan positif lainnya yang disesuaikan dengan kondisi jemaah. Proses ini dapat dilalui dalam tempo waktu 5 hingga 10 menit.

“Metode hipnoterapi ini terbukti ampuh untuk mengatasi masalah kejiwaan seperti fobia kecemasan meninggalkan keluarga. Kasus lain yang sering ditangani mulai dari menghilangkan kebiasaan merokok, mengurangi kecemasan akibat lingkungan baru, dan tidak mau makan,” jelasnya.

Dengan model penanganan melalui penguatan mental dan memotivasi dengan kedekatan spiritual atau diajak bergembira serta ajakan untuk terus sehat dapat memudahkan jemaah agar lebih khusyuk dalam beribadah haji.

“Harapannya jemaah bisa mandiri menyelesaikan masalahnya tanpa bergantung pada tenaga kesehatan. Yang sakit bisa kembali sehat sambil bersabar yakin akan pertolongan Allah. Sedangkan yang sehat dapat membantu petugas kesehatan, " ujarnya.

Berita Terkait : 20 Capim KPK Jalani Tes Kesehatan di RSPAD

Selain itu TKHI yang 3 orang tidak dibebani dengan kebutuhan penanganan yang berlebihan. "Jemaah saling memperhatikan, saling dukung, saling menyelamatkan dan menyehatkan,” pungkasnya.[MRA]