Laksanakan Amanat Presiden Jokowi, Efisiensi Belanja Alsintan Kementan Rp 1,2 Triliun

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan ujicoba mesin tanam atau rice transplanter di sela acara peluncuran Teknologi Pertanian 4.0 di Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin
Klik untuk perbesar
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan ujicoba mesin tanam atau rice transplanter di sela acara peluncuran Teknologi Pertanian 4.0 di Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam berbasis Teknologi Informasi (IT) hingga mekanisasi. 

Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian (alsintan) modern. Selama 4,5 tahun terakhir, pemerintah telah melaksanakan pengadaan alsintan dalam jumlah besar dan menggunakan alokasi anggaran yang besar pula.

Kementan sebagai kementerian yang telah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak 3 tahun berturut-turut, terbukti berhasil mengelola pengadaannya dengan baik.

"Kami sadar anggaran yang dipergunakan sangat besar, untuk itu kami memastikan sistem yang digunakan pun akuntabel dan efisien terhadap keuangan negara. Kami juga terus menjaga integritas petugas yang menangani ini,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Minggu, (30/6).

Amran mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengamanahkan agar anggaran kementerian dikelola dengan baik dan mengedepankan efisiensi. Untuk meningkatkan efisiensi, Kementan telah menggunakan e-catalog, yaitu layanan Pengadaan Barang/Jasa berbasis IT. Tender Elektronik Lebih Efisien Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy mengatakan e-catalog merupakan bentuk komitmen Kementan dalam melakukan digitalisasi pengadaan.

“Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis,” kata Edhy.

Edhy menyampaikan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen 4 tahun terakhir melalui e-catalog telah menghemat anggaran negara hingga Rp 1,2 triliun. Penghematan terhadap pengadaan alsintan pra panen yaitu traktor roda dua, traktor roda empat sebesar dan rice transplanter sebesar Rp 1.096 triliun serta penghematan pengadaan alsintan pasca panen yaitu combine harvester sebesar Rp 120 miliar. 

Sebagai gambaran, sebelum menggunakan e-catalog harga traktor roda dua per unitnya Rp 26 juta pada 2015. Setelah e-catalog menjadi Rp 23 juta pada tahun 2016. Begitu pula traktor roda empat yang sebelumnya Rp 367 juta menjadi Rp 326 juta. Penghematan juga terjadi pada pengadaan rice transplanter dan combine harvester. 

Berita Terkait : Efek EWS: Petani Bawang Panen Raya, Stok Terjaga

“Harga rice transplanter juga sebelum e-catalog senilai Rp 76 juta, begitu pemberlakuan e-catalog harganya menjadi lebih murah yaitu senilai Rp 63 juta. Begitu pun untuk combine harvester besar, dari Rp 380 juta menjadi Rp 337 juta,” sebutnya.

Dalam proses e-catalog, diungkap Edhy, terjadi negosiasi harga yang terekam jelas secara elektronik dan transparansi serta akuntabel. Semua pihak dapat mengawasi pengadaan dengan sistem e-catalog, karena sistem tersebut melalui Lembaga Kebijakan Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). 

Langkah untuk mendigitalkan layanan penyediaan alsintan sepertinya menjadi salah satu jalan yang paling pas untuk dipilih oleh Kementerian Pertanian. Walaupun belum semua layanan tercover dalam sistem digital yang ada saat ini, setidaknya sistem e-catalog yang diimplementasikan di Kementan telah membuktikan manfaatnya dengan penghematan biaya belanja pemerintah hingga 40 persen.

“Sistem tender elektronik yang telah dilaksanakan sejak tahun 2015 ini telah memberikan kinerja yang cukup baik dalam hal penghematan. Penghematan biaya ini didapat lantaran kita tidak perlu lagi harus mengeluarkan budget lebih untuk biaya transportasi dan akomodasi untuk menghampiri pihak-pihak yang berminat ikut tender atau lelang,” katanya.

Yang menggembirakan, kebijakan digitalisasi dalam pengadaan alsintan ini turut berpengaruh terhadap peningkatan level mekanisasi pertanian di Indonesia. Pada tahun 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Namun pada 2018 kemarin signifikan menjadi 1,68. 

Kementan juga telah menguji efisiensi lima alsintan yang berbasis teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil, autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi. “Kelima alsintan berbasis teknologi 4.0 ini bila dibandingkan alsintan konvensional meningkatkan efisiensi waktu kerja berkisar 51 hingga 82 persen. Sementara efisiensi biaya berkisar 30 hingga 75 persen,” beber Edhy.

Mekanisasi Wujudkan Pertanian 4.0 Menteri Amran saat meresmikan Program Pertanian 4.0 di Desa Junwangi, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (29/6), menyampaikan bahwa teknologi 4.0 diimplementasikan di pertanian Indonesia sesuai arahan Presiden Jokowi. Diharapkan melalui pemanfaatan Pertanian 4.0 dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja dan efisiensi biaya secara signifikan, serta memberikan keuntungan bagi petani. 

"Ini hasil anak-anak bangsa, Anda lihat mesin pertanian sudah bisa bergerak tanpa awak. Alat-alat mesin pertanian ini sudah memanfaatkan IT, mulai dari mesin pengolah lahan, drone penebar benih dan pupuk serta alat panen. Dengan begitu, semua biaya menjadi lebih efisien, efektif, transparansi dan akuntabel," ujar Amran.

Baca Juga : Promosikan Budaya Indonesia, KBRI Den Haag Gelar Perayaan Galungan dan Kuningan

Mekanisasi mampu mengurangi kerugian petani, baik saat menanam maupun panen. Menurut Amran, kehilangan atau losses saat panen biasanya terjadi saat pemotongan, Perontokan, Pengeringan, dan diperhitungkan bisa mencapai 10 persen. Namun panen dengan menggunakan combine harvester hanya 1 hingga 3 persen. 

"Jauh sangat efisien dan menguntungkan petani. Efisiensi kerja dengan menggunakan alsintan dapat terlihat dalam waktu kerja olah tanah yang biasanya bila manual butuh 320-400 jam/hektare, kini dengan alsintan hanya butuh 4-6 jam per hektare atau 97,4% lebih efisien dan menghemat biaya kerja hingga 40 persen (hanya 1,2 juta per hektare bila sebelumnya 2 juta per hektare),” terang Amran.   

Efisiensi waktu juga berpengaruh terhadap alokasi tenaga kerja yang akhirnya akan mempengaruhi efisiensi biaya. Berdasarkan uji yang dilakukan oleh Kementan, mekanisasi telah mampu menurunkan biaya produksi sekitar 30 persen dan disisi lain mampu meningkatkan produktivitas lahan 33,83 persen. 

Dukungan terhadap upaya pemerintah mewujudkan Pertanian 4.0 datang dari Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Imam Santoso. Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia (FKPT-TPI) tersebut menyampaikan bahwa sektor pertanian harus sudah mengimplementasikan teknologi dalam proses pertanian dari hulu sampai dengan ke hilir.

"Di era serba digital ini, sektor pertanian harus sudah mulai menggunakan teknologi. Dengan teknologi semua akan menjadi efektif dan efisien. Begitupula target yang akan dicapai akan lebih realistis, karena teknologi itu identik dengan presisi tinggi. Selain itu, untuk makin meningkatkan keberhasilan pertanian presisi ini perlu didukung juga oleh pengembangan agroindustri 4.0, yang mengintegrasikan hulu hilir secara efektif dan efisien, " ujar Imam.

Imam menyampaikan bahwa pertanian presisi (precision agriculture) atau pertanian terukur, atau yang lebih dikenal dengan precision farming, merupakan konsep pertanian berbasis teknologi yang dalam pendekatannya bertumpu pada observasi dan pengukuran yang nantinya akan menghasilkan data untuk menentukan kegiatan kerja bercocok tanam yang efektif dan efisien. 

Mekanisasi Pertanian Tingkatkan Kesejahteraan Petani Mekanisasi pertanian yang telah dilakukan dinilai telah mampu meningkatkan pendapatan petani, meskipun harga yang diterima petani menurun (deflasi) akibat produksi melimpah, akan tetapi karena tambahan penghematan biaya dan kenaikan produksi akibat mekanisasi mampu mengkonpensasi turunnya harga yang diterima petani, sehingga tidak berdampak terhadap turunnya Nilai Tukar Petani (NTP). 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2019 tercatat sebesar 102,61 atau meningkat 0,38 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata NTP tahun 2019 dari Januari - Mei pun masih menjadi catatan terbaik selama enam tahun terakhir. NTP Januari – Mei 2019 bila dirata-ratakan mencapai 102.77, lebih tinggi 0,91 persen bila dibandingkan capaian NTP Januari – Mei 2014 senilai 101.86, atau lebih tinggi 0.61 persen dibandingkan capaian periode yang sama pada tahun 2018 senilai 102.16.

Baca Juga : Bank DKI Sukses Lakukan Sinergi BUMD, OJK Minta BPD Lain Tiru

“NTP menunjukkan nilai tukar dari produk-produk pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga termasuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani,” ungkap Kepala BPS Suharyanto. 

Inflasi bahan makanan turun dalam sejarah Indonesia  mencapai 1,26 persen pada tahun 2017 dimana pada tahun 2013 masih sekitar 11,35 persen. Meski inflasi menurun, nyatanya daya beli dan kesejahteraan petani tetap membaik, yang ditandai meningkatnya NTUP sebesar 5,45 persen dan  NTP sebesar  0,42 persen selama periode 2014-2018.

Secara khusus, menyebabkan jumlah penduduk miskin di perdesaan turun dari 14,17 persen pada tahun 2014 menjadi 13,20 persen pada tahun 2018. Lebih lanjut data BPS mencatat, Produk Domestik Bruti (PDB) sektor pertanian naik Rp 400 triliun sampai Rp 500 triliun.

Total akumulasi mencapai Rp 1.370 triliun. Kemudian, pertumbuhan ekonomi pertanian 2018 mencapai 3,7 persen. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah 3,5 persen.  Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Agung Prabowo juga menambahkan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah produksi sehingga menyebabkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat.

“Selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat 20,35 persen, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018,” pungkasnya. [KAL]