Tingkatkan Daya Saing Nasional, Jonan Berharap Tarif Listrik 2020 Turun

Menteei ESDM Ignasius Jonan (Foto: Rizky Syahputra/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Menteei ESDM Ignasius Jonan (Foto: Rizky Syahputra/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sesuai arahan Presiden Jokowi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan, tidak ada kenaikan untuk tarif listrik tahun 2019.

Terkait hal itu, Jonan menjelaskan, ada sejumlah alasan yang mendukung keputusan tersebut. Antara lain, menguatnya kurs Rupiah. Sejauh ini, nilai Rupiah jauh lebih kuat ketimbang yang diasumsikan di APBN 2019 dan di RKAP PLN 2019, yaitu Rp 15.000/dolar AS.

Hal lain yang mempengaruhi adalah harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). Sejauh ini, ICP mencapai hampir 15 persen. Angka ini lebih rendah dibanding asumsi di APBN 2019 dan di RKAP PLN 2019, yang mencapai 70 dolar AS/barrel.

Baca Juga : Mendominasi 73 Persen, Barca Justru Dihajar Valencia 0-2

"Untuk tahun 2020, pembahasan sedang dilakukan oleh pemerintah di DPR. Baik di komisi-komisi terkait, ataupun di Badan Anggaran (Banggar). Sehingga, hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan rencana perubahan tarif listrik di tahun 2020," jelas Jonan dalam keterangan tertulis yang diterima RMco.id, Minggu (7/7).

Jonan menerangkan, tarif listrik di tahun 2020 setidaknya ditentukan oleh enam parameter. Pertama, kurs Rupiah terhadap dolar AS. Sampai saat ini, angkanya cenderung menguat, jauh di bawah Rp 15.000 per dolar AS.

Kedua, harga minyak mentah atau ICP. Saat ini, ICP mencapai 61 dolar AS/barrel. Jauh di bawah asumsi 70 dolar AS/barrel. Diperkirakan, harga minyak setahun ke depan akan berada di kisaran harga saat ini.

Baca Juga : Singapura dan Malaysia Pastikan Kasus New Coronavirus Keempat di Negaranya

Ketiga, harga batubara acuan. Pada Juni 2019, harga batubara acuan mencapai 71 dolar AS per ton di kalori 6.322. Ini sudah nyaris sama dengan harga patokan batubara untuk kelistrikan, yang mencapai 70 dolar AS per ton. Keempat, penetapan harga gas sebesar 8 persen dari ICP di mulut sumur gas, atau maksimum 14,5 persen di plant gate pembangkit listrik.

Kelima, efisiensi PLN seperti susut jaringan, serta efisiensi operasional dan keuangan akan sangat berpengaruh pada Biaya Pokok Produksi listrik. Keenam, pembangkit listrik yang baru memasuki jaringan, belakangan ini memiliki tarif yang relatif lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik yang sudah beroperasi sebelumnya.

"Jadi, pandangan saya, tarif listrik di tahun depan mudah mudahan akan tetap sama. Bahkan, sejalan dengan target PLN bahwa tarif listrik dapat menurun untuk meningkatkan daya saing nasional. Khususnya, tarif listrik untuk pelanggan industri dan bisnis," pungkas Jonan. [HES]