Dispar Banten Ajak Pengusaha Pelatihan Ekonomi Kreatif

Pantai Anyer, Banten. (Foto: Istimewa).
Klik untuk perbesar
Pantai Anyer, Banten. (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dinas Pariwisata (Dispar) Banten mengumpulkan puluhan pelaku ekonomi kreatif dan usaha kuliner di sekitar kawasan destinasi wisata, untuk diberikan pelatihan dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku usaha tersebut.

“Di era digital dan milenial ini para pengusaha lokal harus juga familiar dengan teknologi. Apalagi saat ini tidak dunia usaha tidak bisa dilepaskan dari teknologi agar bisa dikenal masyarakat luas dalam melakukan promosi makanan khas Banten, khususnya bagi pengembangan usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati.

"Kegiatan peningkatan kompetisi SDM bidang ekonomi kreatif ini mengambil tema “Melalui pelatihan ekonomi kreatif kita tingkatkan kualitas kuliner lokal di Provinsi Banten” di aula Dinas Pariwisata Banten, Selasa (16/7).

Baca Juga : Di Depan Anies, Tito: Lockdown Otoritas Pemerintah Pusat

Ia menjelaskan, melalui kegiatan tersebut para pelaku ekonomi kreatif dan usaha kuliner yang dilaksanakan masyarakat di sekitar destinasi wisata, sedikitnya mengetahui secara teknis dalam bidang pelayanan, higienitas, kemasan, serta jaminan produk makanan yang halal dan baik yang disajikan atau di jual kepada wisatawan.

“Jangan sampai ada kesan destinasi wisatanya kumuh, makanan juga tidak sehat karena pedagangnya tidak mengetahui cara penyajian dan pembuatan produk yang baik dan sehat,” ungkapnya.

Oleh karenanya, kata dia, pengelola kuliner di lokasi destinasi wisata harus lebih peduli terhadap lingkungan. Jangan sampai ada anggapan destinasi wisata di Provinsi Banten masih kumuh dan kotor.

Baca Juga : Pertamina Sumbang 15 Ribu Masker Untuk Puskesmas dan Posyandu wilayah Jakarta Utara

“Masih ada kesan kumuh pariwisata di Banten. Karena diakui pengelola Kuliner di sejumlah lokasi destinasi wisata yang belum peduli terhadap lingkungannya,” imbuhnya.

Selain itu, kata Eneng, pengusaha kuliner dan ekonomi kreatif lainnya di sejumlah destinasi wisata juga harus lebih memperhatikan harga dari olahan yan mereka jual.

“Jangan sampai ada kesan harga makanan di lokasi wisata terkenal mahal. Padahal ini akan berdampak terhadap kunjungan wsiatawan ke lokasi tersebut,” katanya.
 Selanjutnya