TKN Jadi Koalisi Plus-Plus, Moeldoko Kasih Angin Ke Siapa

Klik untuk perbesar
Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko (Foto:Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jika tidak ada halangan, hari ini Jokowi akan membubarkan Tim Kam panye Nasional (TKN). Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan, setelah TKN dibubarkan kemungkinan akan ada partai di luar koalisi Jokowi-Ma’ruf merapat ke Jokowi. 

Karena itu, TKN pun bisa berganti nama men jadi koalisi plusplus. Moeldoko se dang kasih angin ke siapa nih? TKN berisi 150 orang. Dipimpin Erick Thohir. Anggotanya perwakilan partai koalisi Jokowi-Maruf. Yaitu, enam partai pengusung (PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP dan Hanura) dan 4 partai pendukung (PSI, Perindo, PKPI, dan PBB). 

Moeldoko menerangkan, para sekjen parpol koalisi Jokowi-Ma’ruf akan berkumpul untuk membahas teknis pembubaran itu. “Sekjen-sekjen yang akan membicarakan, apa saja acara yang akan digelar nanti,” kata Moeldoko, di Kompleks Istana, kemarin. 

Kenapa dibubarkan? Mantan Pang lima TNI itu mengatakan, TKN adalah wadah koalisi parpol dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Pil pres kemarin. Kini, Pilpres sudah selesai. Maka, keberadaan TKN tidak diperlukan lagi. 

Berita Terkait : Merasa Kekuatan Koalisi Cukup, Jokowi Sudah Perkasa

Moeldoko mengakui, awalnya dia sempat berpikir TKN akan dipermanenkan selama pemerintahan Jokowi ke depan. Rupanya, ia keliru. Dalam politik, ternyata tak ada yang permanen. Politik bersifat dinamis. 

Pembubaran TKN ini adalah salah satu bentuk dinamisme. Moeldoko lalu menceritakan penga lamannya saat bertugas di Lemhanas. Saat itu, ia pernah meng kaji kemungkinan koalisi permanen dalam politik. Hasilnya, dalam politik tidak ada yang permanen. “Semua nya sangat dinamis dan selalu mencari keseimbangan baru. Rumus politik


sudah seperti itu,” ucapnya. Apakah akan ada parpol lain yang bergabung? Moeldoko bilang, koalisi Jokowi saat ini masih solid. Namun, seiring perjalanan waktu, bisa saja akan ada parpol di luar koalisi bergabung. 

Dia menyebutnya dengan koalisi plusplus. Apakah Gerindra merapat? Ia enggan membeberkan lebih jauh. “Bisa saja terjadi (koalisi plus-plus). Cuma plusnya berapa, kita lihat nanti,” tuturnya. 

Berita Terkait : Kabar Petugas Pemilu Diracun, Moeldoko: Itu Pernyataan Sesat

Moeldoko lalu bilang, kendati nan tinya Gerindra tidak bisa masuk kabinet, bukan berarti kemungkinan kerja sama itu berakhir. Gerindra bisa saja berkoalisi dengan pemerintah di parlemen. 

“Itu juga nanti ada kalkulasi politik sendiri tapi itu bisa dihitung,” ujarnya Wakil Ketua TKN, Arsul Sani, meng amini rencana pembubaran organi sasinya. 

Dia menyebut, para sekjen parpol koalisi akan berkumpul untuk persiapan acara pembubaran. Selain membahas acara, pertemuan itu juga akan dijadikan ajang memberikan masukan ke Ketum TKN. Paling tidak, pandangan para sekjen berdasarkan perkembangan di internal masing-masing partai. Salah satu contohnya adalah akan membahas koalisi. 

“Tidak tertutup kemungkinan seperti itu, tentu di antara kami ada yang mem buka bicara soal perlu tidaknya menambah itu kan pasti terjadi diskusi di situ,” kata Sekjen PPP ini. 

Berita Terkait : Koalisi Baru

Pengamat politik Universitas AlAzhar Jakarta, Ujang Komarudin, tak heran dengan wacana koalisi plus-plus seperti yang disampaikan Moel doko. Dalam bacaannya, sesuai perkembangan terakhir, bisa saja Gerindra menjadi plus dalam koalisi itu. Namun, dia juga melihat ada risiko jika Gerindra benar-benar gabung. “Jika (Gerindra) diajak koalisi, ya itu partai-partai koalisi Jokowi sedang marah,” ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini. [BCG]