Tanggap Darurat Pasca Tsunami Selat Sunda

Cegah Penyakit Potensi KLB, Menkes Siap Gelar Edukasi Kesehatan

Menteri Kesehatan Nila Moeloek, saat menjenguk korban tsunami di Banten. (Foto: Dok. Kemenkes)
Klik untuk perbesar
Menteri Kesehatan Nila Moeloek, saat menjenguk korban tsunami di Banten. (Foto: Dok. Kemenkes)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Hasil Rapid Health Assessment (RHA) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada bencana tsunami di Banten, menunjukkan sejumlah penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit berpotensi KLB itu di antaranya diare akut, penyakit serupa influenza (ILI), dan suspek demam tifoid.

Baca Juga : Telkomsel Perkuat Jaringan Di 5 Lokasi Wisata Super Prioritas

Di Pandeglang, Banten yang merupakan wilayah paling parah terdampak tsunami, kasus diare akut mencapai 859 kasus, disusul penyakit serupa influenza (ILI) 504 kasus, dan suspek demam tifoid 204 kasus. Sedangkan di Serang, diare akut berjumlah 912 kasus, ILI 386 kasus, dan suspek demam tifoid 121 kasus. Agar para korban dapat mencegah dan menghindari penyakit yang bersumber dari lingkungan seperti itu, Kemenkes melalui Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat melakukan edukasi kesehatan kepada korban tsunami.

Baca Juga : Thailand Masters 2020, Bagas/Fikri Terhenti di Babak Kedua

Rencananya, edukasi kesehatan yang akan dilakukan dengan koordinasi bersama petugas kesehatan setempat, relawan, dan pihak lain yang fokus pada upaya pencegahan masalah kesehatan pasca tsunami itu akan dilakukan di 11 titik pengungsian. Yakni Cimanggu, Cigadung, Sumur, Caringin, Jiput, Cigeulis, Munjul, Carita (Desa Gombong), Labuan, Cigorondong, dan  Angsana yang merupakan daerah pengungsian terbesar.

Baca Juga : Tingkatkan Penjualan, Dua Kelinci Kontrak Duta Real Madrid 4 Tahun

Selain diberikan pemahaman tentang penyakit berpotensi KLB  para pengungsi juga akan mendapatkan pemahaman mendasar tentang bagaimana berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Minimal, cuci tangan sebelum makan untuk mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh melalui makanan, dan menyebabkan diare. "Kesadaran akan perilaku hidup sehat, terutama pada situasi pasca tsunami harus tetap dilakukan. Kapan pun dan di mana pun dalam situasi apa pun, PHBS harus tetap disadari dan dilakukan. Tsunami memang mengubah kondisi lingkungan, misalnya sanitasi menjadi rusak, tapi PHBS harus tetap diusahakan,” kata Nila, Kamis (27/12) di Jakarta. [HES]