Siasati Kemarau, Ditjen Hortikultura Pacu Pengembangan Varietas Cabe Unggul

Klik untuk perbesar
Dirjen Hortikultura Kementan Anton Prihasto (tengah) saat meninjau lahan cabe di Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Probolinggo, Kamis (15/8). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai upaya konkret mengamankan pasokan cabe terlebih saat musim kemarau seperti saat ini. Langkah-langkah perbaikan produksi hingga pascapanen cabe gencar dilakukan. Seluruh kawasan cabe terutama yang memasok kebutuhan Jabodetabek telah diinventarisir potensi produksinya. 

"Lahan cabe memang banyak yang terdampak kekeringan, sehingga berpengaruh terhadap produksi. Belum lagi imbas dari jatuhnya harga cabe beberapa waktu lalu yang berlangsung cukup lama membuat petani tidak optimal merawat tanamannya," ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, saat melakukan monitoring lapang cabai di lahan cabe Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kamis (15/8).

Berita Terkait : Gairahkan Industri Elektronika, Aturan TKDN Mau Dimaksimalkan

Dirinya menyatakan bahwa Kementerian Pertanian sudah melakukan serangkaian upaya taktis, strategis dan komprehensif. Langkah-langkah tersebut di antaranya mengoptimalkan bantuan sarana pengairan, memaksimalkan panen, pengawalan sentra produksi, hingga konsolidasi dengan petugas dinas pertanian dan petani di sentra utama.


Menurut Dirjen yang akrab dipanggil Anton ini, pihaknya akan memacu pengembangan cabai varietas lokal yang tahan terhadap berbagai cuaca dan gangguan OPT. "Produksi cabe varietas lokal akan kami tingkatkan karena terbukti pada saat kemarau seperti ini bertahan dibanding jenis hibrida. Bahkan cabe lokal di Leces ada yang bertahan panen sampai 25 kali. Petani setempat menyebutnya cabe patalan," tukas Anton.

Berita Terkait : Jamin Kualitas Manggis dan Salak, Kementan Dorong Sertifikasi Organik

Untuk mendorongnya, pihaknya akan mendorong benih-benih lokal tersebut untuk segera disertifikasi dan dikomersialkan sebagai benih unggul bermutu. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Timur diminta untuk mengawal selama proses berlangsung.

Di tempat yang sama, Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman, mengaku siap memberikan bantuan benih unggul guna menjaga stabilitas produksi cabe di musim kemarau. "Untuk jangka pendek kita berikan benih unggul hibrida untuk ditanam sebagai percontohan. Kita berikan petani benih yang produksinya tidak kalah dengan cabe lokal. Benih cabe harus bebas dari penyakit biar hasil panennya maksimal. Benih cabe yang dihasilkan dari pertanaman bisa berpontensi terinfeksi penyakit atau dikenal dengan seed born desease," jelas Sukarman.

Berita Terkait : Sertifikasi Ekspor Pertanian Asal Sulut Naik Tajam

Misbahul Munir, Kelompok Tani Talang Sari Dua yang juga penerima program PUPM dari Kementerian Pertanian, mengaku selama ini lebih memilih cabe rawit lokal yang dikenal dengan patalan. "Saya bersama anggota kelompok menyatakan kesiapan melaksanakan percontohan lahan multi varietas cabe unggulan bermutu dengan harapan nantinya akan meningkatkan produktivitas hasil panen cabenya," ujar Mishabul.


Berdasarkan data Dinas Pertanian setempat, saat ini terdapat 1.682 hektare areal cabe rawit se-Probolinggo yang diperkirakan akan mulai panen di awal Oktober nanti. Selama ini hasil panen cabai dari Kabupaten Probolinggo banyak memasok pasar pasar Jawa Timur hingga Kalimantan. [KAL]