Catat, Setiap Selasa Pegawai Kemenhub Wajib Kenakan Pakaian Adat

Ketua Komisi V Fary Djemy Francis bersama Anggota Komisi V dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta Jajaran Kementerian Perhubungan melakukan foto bersama sebelum Rapat Kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/9). (Foto: Rizki Saputra/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Ketua Komisi V Fary Djemy Francis bersama Anggota Komisi V dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta Jajaran Kementerian Perhubungan melakukan foto bersama sebelum Rapat Kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/9). (Foto: Rizki Saputra/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pegawai Kementerian Perhubungan (Kemenhub) wajib mengenakan pakaian adat. Hal ini untuk meningkatkan rasa cinta Tanah Air. 

Berita Terkait : Antisipasi Kerugian Akibat Wabah Corona, Menhub Bakal Beri Kelonggaran ke Industri Transportasi

Penggenaan pakaian adat itu tertuang dalam Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor SE 19 Tahun 2019 tentang Pakaian Dinas Pegawai Kementerian Perhubungan. “Mulai hari ini, setiap hari Selasa kami kompak menggunakan pakaian Adat saat bekerja, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Menteri Perhubungan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan Hengki Angkasawan, di Jakarta, Selasa (3/9).

Berita Terkait : Rapat Dengan Wapres, Tito Bahas Peran Kemendagri Tangani Stunting

Menurut dia, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi juga menggunakan pakaian adat saat menghadiri raker dengan DPR hari Selasa ini. Menhub, kata dia, memberikan arahan agar seluruh jajaran Kemenhub melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bernilai Persatuan dan Kesatuan, Kerja sama, dan Kemanusiaan, sebagai wujud nyata bahwa seluruh insan transportasi mencintai Tanah Air Indonesia.

Berita Terkait : Baru 32 Persen, Masyarakat Masih Malas Pakai Angkutan Umum

“Kami sangat senang dan bangga menggunakan pakaian adat. Ini merupakan salah satu wujud nyata kami ASN Kemenhub menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” tutur Hengki. [DIT]