RMco.id  Rakyat Merdeka - Aksi Mahasiswa yang dilakukan Selasa (24/9) ternyata disusupi provokator. Para provokator itu yang bikin kerusuhan dan aksi pembakaran sejumlah fasilitas publik.

Aksi mahasiswa itu juga ternyata ditunggangi pihak tertentu yang ingin mengganggu pelantikan Presiden jokowi, 20 oktober mendatang. Ada saran, kalau tak bisa membersihkan diri dari para provokator, mahasiswa diminta ngerem aksinya.

Kepastian adanya kelompok yang ingin ganggu pelantikan Presiden Jokowi di tengah aksi mahasiswa itu, diungkapkan menkumham Yasonna Laoly di Gedung Kemenkumham, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, kemarin.

Baca Juga : Bamsoet: Ini Bukti Solidaritas dan Gotong Royong Anak Bangsa

Sehari sebelumnya, analisis itu disampaikan Menkopolhukam, Wiranto. Kata Yasonna, pernyataan Wiranto itu benar adanya.

“Setelah kita teliti, rupaya ada gerakan sistem, gerakan tambahan. ada itu kemarin. Setelah kita tunjukkan, ada. Kita enggak asbun (asal bunyi) kok. Ada lah,” ucap menteri asal PDIP ini.

Indikasinya, kata Yasonna, kerusuhan terjadi saat demonstrasi mahasiswa Selasa ke marin. Massa bertindak brutal dengan me rusak dan membakari fasilitas umum serta ken daraan-kendaraan.

Baca Juga : Kasus Baru Nambah 1.752, Terbanyak di DKI

“Saya tanya, kalau sampai merusak membakar mobil orang, memang begitu caranya?” tanya dia.

Sayangnya, Yasonna enggan mengungkapkan pihak-pihak yang hendak mengacaukan pelantikan Jokowi itu. Dia meminta wartawan menanyakannya lagi ke Wiranto.

“Itu bukan otoritas (saya). Tapi saya tahu. Itu kami rapatkan,” tutur Yasonna.

Baca Juga : Azis Syamsuddin Bantah Tolak Tanda Tangani Surat Dari Komisi III DPR

Sehari sebelumnya, Yasonna juga sudah mengingatkan mahasiswa agar tidak terseret-seret agenda-agenda politik pihak tertentu.

“Saya berharap kepada para mahasiswa, kepada adik-adik, jangan terbawa oleh agenda-agenda po litik yang enggak benar,” ucapnya.

Terlebih, kata Yasonna, DPR dan Pemerintah telah memenuhi permintaan para mahasiswa untuk menunda pembahasan RUU KUHP dan sejumlah RUU yang dianggap bermasalah lain.
 Selanjutnya