Kepala Bappenas: Warga Kaltim Punya DNA Memisahkan Fungsi Kota

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang S Brodjonegoro, dalam acara Talkshow Rancang Bangun dan Kesiapan Kaltim Sebagai Ibu Kota Negara di Hotel Novotel, Balikpapan, Kaltim, Selasa (1/10). (Foto: Firsty Hestyarini/RM)
Klik untuk perbesar
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang S Brodjonegoro, dalam acara Talkshow Rancang Bangun dan Kesiapan Kaltim Sebagai Ibu Kota Negara di Hotel Novotel, Balikpapan, Kaltim, Selasa (1/10). (Foto: Firsty Hestyarini/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tak berlebihan memang, jika pemerintah berencana memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur (Kaltim). Tepatnya, di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.

Kedua wilayah tersebut, akan menjadi pusat pemerintahan. Sedangkan Jakarta, menjadi pusat bisnis.

Terkait hal ini, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang S Brodjonegoro mengatakan, masyarakat Kaltim memang seolah punya semacam deoxyribonucleic acid/DNA (materi pembawa gen) yang cenderung menyukai pemisahan fungsi kota.

"Kaltim memang spesial. Dia seperti punya DNA memisahkan fungsi kota. Terutama, sebelum dibentuknya Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Kota Balikpapan, yang sejak zaman Belanda dikenal sebagai kota minyak, dijadikan pusat bisnis. Sementara Samarinda, menjadi pusat pemerintahan," ujar Menteri Bambang dalam acara Talkshow bertajuk "Rancang Bangun dan Kesiapan Kalimantan Timur Sebagai Ibu Kota Negara" yang diprakarsai Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa di Hotel Novotel, Balikpapan, Kaltim, Selasa (1/10).

Berita Terkait : Mengapa Kalsel Layak Jadi Gerbang Ibu Kota Negara?

Kata Bambang, DNA itu juga terlihat saat pembentukan Provinsi Kaltara.

Kaltara yang sebelumnya masuk wilayah Kaltim, pada tahun 2012 memisahkan diri menjadi provinsi sendiri. Tarakan yang merupakan kota penghasil minyak bumi di wilayah Utara Kaltim, tak serta-merta jadi ibu kota Kaltara. Padahal, Tarakan adalah kota terbesar di provinsi baru tersebut.

Pemerintah Provinsi Kaltara akhirnya menunjuk Tarakan sebagai pusat bisnis. Sedangkan untuk pusat pemerintahan, dipilih Kota Tanjung Selor.

"Di Indonesia, cuma Kaltim yang seperti itu. Coba dicek. Nggak ada lagi provinsi yang kayak gitu. Punya DNA memisahkan fungsi kota," tandas Menteri Bambang.

Baca Juga : Jakarta Diminta Nyontek Singapura dan Tokyo

Sementara itu, Gubernur Kaltim Isran Noor yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, Kaltim punya modal utama untuk menjadikan wilayahnya sebagai ibu kota negara. Yakni, antuasisme dan semangat warga.

"Tak cuma warga Kukar dan PPU, seluruh warga Kaltim juga menyambut gembira rencana pemerintah memindahkan ibu kota negara ke Kaltim," kata Isran.

Ia menambahkan, Kaltim punya empat keunggulan daerah sebagai ibu kota negara. Pertama, keunggulan status lahan. Sebagian besar lahan di wilayah IKN berstatus kawasan hutan (milik negara).

Kedua, keunggulan kondisi fisik. Secara umum, kondisi fisik Kaltim relatif aman dari banjir dan gempa bumi. Selain itu, Kaltim juga memiliki ketersediaan air baku dari sungai-sungai besar, dan tidak terlalu jauh dari pantai.

Baca Juga : Semoga Virus Corona Nggak Nyebar Via Transportasi Publik

Ketiga, keunggulan ekonomi. Secara ekonomi, Kaltim memiliki posisi geostrategis ALKI II, dan berada di antara dua kota besar: Balikpapan dan Samarinda. Selain itu, Kaltim juga memiliki ketersediaan infrastruktur pendukung, dan berdekatan dengan kawasan industri yang sudah eksisting.

"Yang tidak kalah penting, secara sosial, masyarakat Kaltim cukup heterogen, dan relatif aman dari masalah sosial dan konflik SARA. Hal lainnya, tingkat pendidikan baik dengan IPM di atas nasional. Selain itu, jumlah kepadatan penduduknya relatif rendah," pungkas Isran. [HES]