Kementan Dorong Model Pertanian Terpadu Zero Waste di Sukoharjo

Suwandi (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Suwandi (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penerapan model pertanian pangan terpadu zero waste guna mengatasi dampak musim kekeringan. Model ini tengah ditetapkan petani milenial di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi, model pertanian terpadu ini merupakan solusi permanen agar tetap melakukan kegiatan budidaya di musim kekeringan atau kemarau panjang. Dengan demikian, musim kemarau tidak menghalangi petani untuk memproduksi pangan.

"Model pertanian terpadu zero waste sangat menguntungkan karena low input dan pangan yang dihasilkan adalah organik," kata Suwandi saat mengunjungi usaha pertanian dengan model terpadu zero waste di Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, pekan lalu.

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

Model pertanian terpadu zero waste di Sukorharjo ini dikembangkan Heri Sunarto, salah seorang petani milenial. Dengan menerapakan model ini, Heri menilai dampak musim kemarau saat ini tidak ada. Konsep pertanian terpadu zero waste ini dengan mengintegrasikan ternak ayam, sapi, ikan lele, sayuran, brambang, padi pandanwangi.

"Saat kemarau kami lakukan pompanisasi air sumur. Sudah berjalan 3 tahun, panen padi 4 kali pertahun, umur 90 hari panen, varietas pandanwangi organik. Limbah jerami untuk sapi 4 indukan dan kotorannya dijadikan pupuk bisa untuk 2 hektar," ujar Heri kepada Suwandi.

Heri menjelaskan tanaman yang budidayakannya tetap menggunakan pupuk urea sebanyak 25 kilogram per hektare, namun sebagai starter saja. Kemudian dipupuk organik dan tanpa pestisida kimiawi. 

Berita Terkait : Kemenag Pantau Jemaah Umroh yang Tertahan di Bandara

"Hasilnya, lahan luas 2 hektar, produksinya gabah basah 11 ton perhektar, dijual sendiri ke Jakarta. Kotoran sapi untuk pupuk padat, kami baru memiliki 4 ekor sapi. Semua limbah diproses menjadi input pupuk ke lahan sawah, ini tanah menjadi subur," jelasnya.

Pola pertanian terpadu zero waste terdiri dari ikan lele, ayam, mina padi, sayur hdroponik, dan aqua ponik bawang merah. Ada ratusan kolam bak semen untuk kolam ikan lele dan 60 bak kolam terpal berisi 4.000 ekor per bak kolam terpal bulat terpoly, kerangka besi wiremesh 6 milimeter berikut instalasi air, diameter kolam 3 meter, tinggi 1 meter. Biaya setiap kolam terpal bulat Rp 2 juta dan bisa berumur hingga Rp 7 tahun.

"Budi daya ikan lele modal Rp 12 sampai 13 ribu per kilogram. Dijual Rp 16 ribu per kilogtam. Dalam 1 kilogram ikan isi 10 ekor," sebut Heri. [KAL]