Lebih Dari 1.000 Gempa Masih Terus Dirasakan Warga Maluku

Bantuan untuk warga Maluku yang mengungsi sejak 26 September 2019 karena terdampak gempa M6,5 masih terus mengalir. (Foto: Humas BNPB)
Klik untuk perbesar
Bantuan untuk warga Maluku yang mengungsi sejak 26 September 2019 karena terdampak gempa M6,5 masih terus mengalir. (Foto: Humas BNPB)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gempa susulan masih terus dirasakan warga Maluku pasca gempa M 6,5 yang terjadi pada 26 September lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, sampai Senin (7/10) pukul 03.00 WIT, terjadi lebih dari 1.000 gempa susulan.

Teridentifikasi 1.149 kali gempa susulan, dan 122 di antaranya dirasakan oleh warga. Pukul 02.15 WIB, gempa M 3,4 dengan kedalaman 10 km masih terjadi dan dirasakan warga. Pusat gempa tersebut berada di laut sekitar 24 km timur laut Ambon. Namun demikian, dilihat dari rangkaian gempa susulan, frekuensi cenderung turun.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku per 6 Oktober 2019 pukul 18.00 WIT, mencatat total penyintas berjumlah 134.600 jiwa, dengan sebaran di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) 90.833 jiwa, Seram Bagian Barat (SBB) 37.787 dan Kota Ambon 5.980 jiwa. Korban meninggal dunia berjumlah 37 jiwa.

Baca Juga : Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gorontalo, Fadel Cerita Usulan Amandemen UUD 1945

Sementara itu, jumlah kerusakan rumah mencapai 6.344 unit dengan tingkat kerusakan berbeda. Wilayah Kabupaten Malteng, rumah rusak berat (RB) 724 unit, SBB 298 dan Ambon 251. Rumah rusak sedang (RS) di wilayah Kabupaten Malteng mencapai 1.104 unit, SBB 469 dan Ambon 253, sedangkan rusak ringan (RR) di wilayah Malteng 2.238, Ambon 654 dan SBB 353.

Pos Komando (Posko) Penanganan Darurat Bencana Gempa di setiap wilayah terdampak, masih terus melakukan upaya penanganan darurat di lapangan. Beberapa tantangan masih dihadapi oleh personel yang bertugas di masing-masing kabupaten/kota.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan, sebaran titik penyintas tidak terfokus pada kelompok-kelompok besar. Sehingga, menyulitkan tenaga personel kesehatan dalam memberikan pelayanan medis. Di sisi lain, kebutuhan personel kesehatan masih sangat dibutuhkan. Seperti dokter umum, bidan dan perawat, apoteker, dan tenaga psikososial.

Baca Juga : 188 WNI Dari KRI dr Suharso-990 Mulai Jalani Tahapan Observasi

"Penanganan darurat di sektor kesehatan tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga memastikan gizi terpenuhi pada kelompok rentan, kesehatan reproduksi, distribusi obat dan pencegahan serta pengendalian penyakit," kata Agus.

Di sisi lain, penanganan juga dilakukan di sektor lintas seperti pendidikan, penanganan dan perlindungan penyintas, ekonomi, sarana dan prasarana serta logistik.

Sehubungan dengan penanganan darurat yang berakhir pada 9 Oktober mendatang, BNPB masih terus memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat, dan memastikan pelayanan kepada warga terdampak dilakukan dengan baik. [HES]