RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebaiknya tidak mengisi kursi Menteri Pertahanan. Eks Danjen Kopassus ini lebih baik menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres). 

“Prabowo akan turun kelas jika nekat mengambil kursi Menhan. Posisi tersebut, akan menjadikan dirinya bawahan presiden yang dua kali bertarung dengannya pada Pilpres," kata Pengamat Politik Ireng Maulana menanggapi kabar Prabowo mengincar kursi Menhan, di Jakarta, Selasa [9/10].

Alumni Lowa State University, lowa (IA) Amerika Serikat ini berpendapat, bahwa saat ini Prabowo masih menjadi rujukan kekuatan politik yang mewarnai dinamika demokrasi Indonesia jika tidak mengambil posisi Menhan.

Berita Terkait : Menteri KKP Edhy Prabowo Dikabarkan Kena Corona

Karena itu, kata Ireng tindakan politik Prabowo masih ditunggu sebagai respon dari berbagai persoalan yang ada di Tanah Air. Kelihatan sekali Prabowo masih diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan politik arus utama. 

Mengincar posisi Menhan, kata Ireng sama seperti menggali penolakan terhadap dirinya oleh para pendukung yang sudah terlanjur loyal dan mereka akan menyimpan ingatan tentang Prabowo yang ternyata hanya mementingkan jabatan. 

"Ketika Prabowo sudah mempersempit ruang perannya sendiri dengan menjadi Menhan, itu sama saja mengkerdilkan arti penting dirinya sebagai tokoh politik," tegas Ireng.

Baca Juga : Puluhan Warga Swiss Belajar Bahasa Indonesia Virtual

Lebih lanjut Ireng mengatakan, bahwa Prabowo tidak perlu menjadi Menhan mengingat kapasitas dirinya diperlukan bersama kekuatan bangsa lainnya untuk memback-up pemerintah dalam urusan kepentingan nasional yang jauh lebih besar dan lebih krusial.

"Apabila kepentingan untuk mendukung pemerintahan Jokowi direpresentasikan dengan menempati jabatan tertentu, maka mungkin akan lebih elegan jika Prabowo mau mewakafkan dirinya masuk dalam jajaran Watimpres untuk memperkuat gerak langkah kepemimpinan Jokowi dalam lima tahun ke depan," kata Ireng.

Pada peran ini, Prabowo akan lebih bisa memperlihatkan kelasnya sebagai tokoh, dan bukan sebagai bawahan atau pembantu presiden seperti menteri dalam kabinet. 

Baca Juga : Palestina Mikir Keluar dari Liga Arab

“Walaupun Gerindra menghendaki kursi Menhan, lebih baik menyiapkan orang lain yang sesuai untuk posisi tersebut karena kursi Menhan tidak sepadan dengan dinamika politik yang telah dilalui Prabowo sebagai aktor politik,” tegasnya. [NOV]