Optimalkan Penanganan, Doni Bentuk Pokja Pencegahan Karhutla

Kepala BNPB Doni Monardo
Klik untuk perbesar
Kepala BNPB Doni Monardo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berencana membentuk kelompok kerja (Pokja) untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Kepala BNPB Doni Monardo menilai, selama ini penanggulangan karhutla belum optimal. Penanganannya masih sebatas pemadaman api. Bukan pencegahan. Pembentukan Pokja bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya karhutla. 

Pokja bisa memperbaiki kelemahan-kelemahan di dalam penanganan karhutla selama ini. 

“Kami berharap Pokja nanti bisa memberi masukan kepada setiap lembaga, dan juga sebagai bahan dalam memperbaiki dan menyempurnakan beberapa peraturan yang ada,” ungkap Doni dalam kegiatan Lokakarya Optimalisasi Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kabut Asap di Ruang Serbaguna Dr. Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB, kemarin. 

Berita Terkait : PGN Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Jakarta

Kegiatan Lokakarya ini dihadiri perwakilan lintas lembaga, antara lain Indra Gustari dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), Li Chen Wei dari Kemenko Bidang Perekonomian, Sutedjo Halim dari PT. Triputra Group, Hartono dari Badan Restorasi Gambut (BRG), dan Peter F. Gontha Staf Ahli Kementerian Luar Negeri. 

Doni menyebutkan, Pokja nanti terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI dan Polri. Selain itu, akademisi, dunia usaha, kalangan media, dan ahli di bidang lingkungan. 

“Keberadaan ahli diharapkan bisa membuat pencegahan karhutla lebih optimal,” ungkapnya. 

Doni mengklaim, pembentukan pokja ini juga berdasarkan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, pokja dibutuhkan agar pencegahan dapat dilakukan seoptimal mungkin. 

Baca Juga : Virus Pengalih Isu

“Presiden dalam berbagai kesempatan menyampaikan kalau pencegahan harus menjadi prioritas. Pencegahan harus dilakukan seoptimal mungkin,” tegasnya. 

Sementara, Deputi Sistem dan Strategi BNPB, Wisnu mengatakan, peristiwa karhutla yang menimbulkan kabut asap di Indonesia harus menjadi perhatian serius. 

Untuk mengatasinya, membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. “Langkah pencegahan harus ditingkatkan agar karhutla yang selalu terjadi setiap tahun tidak menimbulkan dampak yang semakin merugikan,” ujar Wisnu. 

Staf Ahli Kementrian Luar Negeri, Peter F Gontha mengungkap, masalah karhutla tidak hanya di Indonesia, tapi terjadi di beberapa negara di dunia. Tetapi Indonesia memiliki kesulitan tersendiri karena lahan yang terbakar adalah lahan gambut. 

Baca Juga : Dihajar Tim Kacangan, Atletico Terusir dari Piala Raja

“Jika Indonesia mampu mengelola lahan gambut dan melakukan pemanfaatan lingkungan hidup dengan baik, Indonesia mampu menjadi world superpower. Karena, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya,” ujar Peter. [QAR]