Makin Dekat Pelantikan

Jokowi Makin Powerful

Joko Widodo (Jokowi) akan kembali dilantik sebagai Presiden RI untuk kedua kalinya, pada 20 Oktober mendatang. (Foto: IG @jokowi)
Klik untuk perbesar
Joko Widodo (Jokowi) akan kembali dilantik sebagai Presiden RI untuk kedua kalinya, pada 20 Oktober mendatang. (Foto: IG @jokowi)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Semakin dekat pelantikan presiden kedua kalinya, posisi Jokowi semakin powerful. Semua parpol dan semua kekuatan seperti menyerahkan keputusan kepada Jokowi.

Apakah Jokowi mau merangkul oposisi atau tidak, semua tidak ada yang protes. Termasuk soal pemilihan menteri, tak ada satu pun yang berani merecokinya. Pelantikan presiden tinggal tiga hari lagi. Isu pembentukan kabinet makin santer.

Hampir setiap hari, media sosial diramaikan perbincangan soal siapa calon menteri di kabinet Jokowi periode kedua nanti. Beberapa “bocoran” daftar nama menteri tersebar di linimasa. Jokowi rupanya ikut memantau riuhnya perbincangan itu.

Kemarin, dia mengunggah gambar telepon yang menggantung. Di bagian sisi bawah terdapat tulisan, “Sabar! Sebentar lagi...”. Jokowi mengaku telah menerima beberapa versi bocoran nama-nama menteri kabinet. Ia pun membacanya dengan antusias, kalau-kalau itu benar adalah bocoran.

“Yang jelas, susunan kabinet sudah rampung. Saya umumkan segera setelah pelantikan Presiden pada 20 Oktober, bisa hari yang sama, atau setelahnya,” tulis Jokowi di akun Twitternya.

Soal siapa yang akan membantunya di pemerintahan nanti, Jokowi masih menutup rapat-rapat. Dia hanya menegaskan, Indonesia tak kekurangan orang-orang hebat yang mampu memimpin kementerian dan lembaga, dan bersedia mengabdi kepada bangsa ini.

Mereka terserak di semua bidang pekerjaan dan profesi. Akademisi, birokrasi, politisi, santri, juga TNI dan polisi. “Tidak sulit menemukan mereka,” tulis Jokowi, memberikan keterangan.

Mengenai unggahan gambar telepon yang dilakukan Jokowi, Pejabat di Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, mencoba memberi penjelasan filosofis.

Berita Terkait : Jokowi Masih Buka Pintu Maaf

Kata dia, ada dua kode yang tersirat dalam gambar itu. Pertama, gambar gagang telepon. Kedua, tulisan “Sabar, sebentar lagi”.

Makna pertama bisa diartikan bahwa Jokowi akan menelepon, dan memastikan nama yang dicantumkan sebagai calon menteri. “Beliau akan menghubungi masing- masing calon menteri tersebut,” kata Ngabalin, kemarin.

Kode yang kedua sudah disampaikan secara tersurat. Artinya, meminta publik dan terutama para calon menteri agar bersabar menunggu telepon itu.

Ngabalin menekankan, Jokowi ingin calon pembantunya memiliki kompetensi dan bisa menjaga amanah. Tugas menteri adalah membantu Presiden. Artinya, tidak boleh ada menteri yang menjalankan program melenceng dari visi Presiden.

“Semua calon menteri harus paham dan mengerti hanya satu komando yaitu pada Presiden. Siapa pun Anda dan dari mana pun Anda berasal, setelah dilantik dan diambil sumpah Presiden, maka hanya ada satu matahari dalam menjalankan roda pemerintahan yaitu Presiden,” tegasnya.

Kapan Jokowi akan mengumumkan susunan kabinetnya? Kepala KSP Moeldoko menyatakan, kemungkinan setelah pelantikan. “Karena Presiden ingin segera cepat bekerja. Jadi mungkin (hari Minggu) itu,” kata Moeldoko, di Jakarta, kemarin.

Dari keriuhan perbincangan soal kabinet, tak terdengar suara sumbang. Baik dari oposisi maupun koalisi. Begitu juga dari para relawan. Semua kompak menyerahkan keputusan ke presiden.

Jokowi pun terlihat lebih percaya diri. Terlihat misalnya lebih banyak berdiam di Istana, menerima para tamu. Mulai dari politisi yang disebut para calon menteri hingga para ketum parpol. Kemarin misalnya, Jokowi memanggil politikus PDIP, Adian Napitupulu, ke Istana.

Berita Terkait : Jokowi Hadiri Kenduri Kebangsaan di Bireuen Aceh

Hal ini berbeda pada 2014, jelang pengumuman kabinet saat itu, Jokowi harus wara-wiri menemui Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Partai Gerindra, yang dikabarkan akan merapat ke koalisi pemerintah, juga tak banyak bicara. Gerindra menyerahkan keputusan kepada Jokowi. “Kami tidak dalam posisi meminta-minta, mena warkan apalagi ikut campur atau mengintervensi,” kata Ketua DPP Gerindra, Ahmad Riza Patria, di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin.

Analis Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengamati, Jokowi memang berbeda dalam penyusunan kabinet sekarang.

Hal itu terlihat dengan pertemuan Jokowi dengan para ketum partai oposisi, seperti SBY (Demokrat), Prabowo Subianto (Gerindra), dan Zulkifli Hasan (PAN). Pertemuan itu diartikan sinyal Jokowi akan merangkul semuanya.

Menurut dia, ini menunjukkan dominasi Jokowi terhadap partai koalisi. Walaupun partai koalisi takut jatah kursi menterinya berkurang, namun tak terdengar suara protes. Secara umum, mereka menyerahkan sepenuhnya ke Jokowi.

Apakah efektif kalau Demokrat, Gerindra, dan PAN bergabung? Hendri menilai, koalisi dan kabinet gemuk sebenarnya dapat berdampak positif di tahun-tahun awal pemerintahan periode kedua Jokowi. Sebab, partai politik dan politisi yang ada di kabinet akan berkompetisi mewujudkan program-program Jokowi demi mendapatkan apresiasi politik.

Hanya saja, Jokowi bakal menghadapi tantangan menghadapi koalisi dan kabinet gemuk di masa akhir kepemimpinannya. Sebab, partai dan politisi di kabinet berpotensi berjalan sendiri-sendiri demi memuaskan kepentingan masing-masing. Jokowi harus bisa mengkoordinasikan menteri dari partai politik agar tidak merugikan pemerintahannya.

“Jangan sampai pecah sendiri-sendiri. Ini yang tidak mudah,” kata Hendri, kemarin.

Berita Terkait : Hari Ini, Presiden Jokowi Bertemu PM Australia dan Pidato di Depan Parlemen

Soal gambar gagang telepon, Hendri mengartikan bahwa Jokowi sedang menjelaskan bahwa ia tak menerima telepon dari mana pun. Simbol itu menegaskan, Jokowi tak ingin diganggu dalam penyusunan kabinet.

"Ini kan sudah hampir final, pasti presiden perlu ketenangan dalam menyusun kabinet,” jelasnya.

Mantan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir, berharap, dalam penyusunan kabinet nanti, Jokowi mempertimbangkan perjalanan Pilpres lalu. Dia mengistilahkannya, orang-orang yang berkeringat.

“Saya selalu bilang, siapa pun yang terpilih, saya berharap orang- orang yang berkeringat kemarin. Dan yang penting punya track record yang baik,” kata Erick, usai bertemu Seskab, Pramono Anung, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, kemarin.

Erick lalu berbicara tantangan yang mesti dihadapi Indonesia, khususnya masalah perekonomian global. Ia berharap, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terpengaruh perang dagang antara AS dengan China.

“Saya kembali ke ekonomi, karena sekarang eranya sedang perang ekonomi. Nah, ini yang menurut saya, jangan sampai kita pertumbuhan ekonomi, yang sekarang sudah lima persen, dan bukan nggak mungkin terkoreksi dengan perang dagang,” ucap Erick.

Apakah bersedia masuk kabinet? Erick tak memberikan jawaban pasti. Dia mengaku belum dipanggil Presiden Jokowi. Dia kemudian meminta para wartawan untuk memerhatikan perkembangan. “Kita lihat yang dekat dulu,” pungkasnya. [BCG]