Jokowi Pastikan Harga Gas Industri Tidak Naik

Presiden Jokowi (Foto: Instagram)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi (Foto: Instagram)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi memastikan harga gas industri tidak akan naik. Pernyataan ini membantah kabar yang menyebut PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN akan mengerek harga gas industri mulai hari ini, Jumat (1/11).

"Sementara ini, saya pastikan tidak naik," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (1/11).

Namun, Jokowi meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menghitung ulang komponen harga gas bagi industri.

Berita Terkait : Ombudsman Minta Pemerintah Berikan Kepastian Perpres Harga Gas Industri

Sebab, ia melihat harga gas industri di Indonesia relatif mahal dibanding negara-negara lain. Padahal, berdasarkan pantauannya, harga gas di onshore masih normal. Harga menjadi lebih mahal, ketika dijual untuk industri.

Harga gas di Indonesia bisa mencapai 9 sampai 11 dolar AS per MMBtu (million British thermal unit).

"Saya sudah menyampaikan kepada Menteri ESDM, betul-betul harga gas itu dilihat lagi beban-beban mana yang menyebabkan harga terlalu mahal. Bisa saja harga sewa pipa sambungan. Karena data yang saya miliki, harga gas di onshore ini normal. Tapi, begitu ditarik di industri, kok mahal. Jadi, saya suruh cek," tutur Jokowi.

Berita Terkait : Penurunan Harga Gas Jangan Sampai Rugikan PGN

Dia pun memerintahkan Arifin mengkaji kemungkinan penggunaan gas, yang diproduksi ladang gas dalam negeri untuk keperluan industri domestik, pada Kamis (31/10).

Presiden Jokowi mengatakan, gas yang diproduksi oleh ladang gas dalam negeri seperti Dumai, Bojonegoro, Natuna, Saka Kemang, sebagian di antaranya dikirim ke luar negeri seperti Singapura.

"Saya kira, kita memiliki produksi yang banyak, yang sementara ini dibawa ke luar. Saya sudah perintahkan kepada Menteri ESDM yang baru, agar ini mulai dilihat. Supaya bisa digunakan untuk kepentingan industri-industri dalam negeri agar lebih efisien. Jangan sampai itu dibawa ke luar. Sehingga, harga di dalam malah lebih mahal dari yang di luar," tegas Jokowi. [OKT]