Kritik Proyek LRT

Ngeri, Lihat Pak JK Marah

Klik untuk perbesar
Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jarang kita melihat Wakil Presiden Jusuf Kalla marah-marah. Tapi sekalinya marah, bisa mengerikan. Yang kena kali ini, adalah penanggung jawab proyek light rail transit alias LRT alias kereta ringan.

Pak JK geregetan karena pembangunan LRT tidak efisien. "Kok bisa, per 1 km menghabiskan biaya Rp 500 miliar," kata JK. Kritik disampaikan JK, saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) di Istana Wakil Presiden, Jumat (11/1).

JK mengawali sambutannya dengan mengungkapkan pertemuannya dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di rumah dinas Wapres, Jumat (11/1) pagi. Dalam pertemuan itu, JK meminta Anies agar  lebih efisien mengatur transportasi di Jakarta.

Upaya efisiensi ini, kata JK, dapat dilakukan dengan memaksimalkan penggunaan teknologi dalam sistem transportasi. JK membandingkan penggunaan transportasi di tahun 70-an dengan masa kini. Saat itu, untuk menggunakan moda transportasi umum, orang harus memanggil secara manual dengan berteriak. Namun saat ini, semua sistem transportasi sudah terintegrasi dengan teknologi.

Kemajuan sistem transportasi di ibu kota, diakui JK, tak lepas dari peran pihak ketiga sebagai konsultan. Dalam pembangunan sebuah sistem transportasi, umumnya pemerintah meminta bantuan pihak ketiga sebagai konsultan. Tapi JK menggarisbawahi, konsultan yang dipakai mesti yang pintar. "Kalau kita ketemu konsultan, mesti ketemu yang pintar. Orang yang mengikuti teknologi. Jangan asal membangun saja," tegas JK. Di sini, gaya bicara JK masih kalem.

Berikutnya, JK mengambil contoh proyek LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) yang dinilainya tak efisien. Moda transportasi yang merupakan tanggung jawab pemerintah pusat serta dibangun BUMN PT Adhi Karya itu, dibangun untuk menghubungkan Jakarta dan kota-kota satelit melalui rel melayang alias elevated.

Padahal, menurut JK, bisa dilakukan pembangunan rel reguler yang lebih murah. Apalagi, harga tanah di wilayah perbatasan Jakarta tidak terlalu mahal. "Kalau luar kota, lahan masih murah kok. Masak, penduduk tidak ada, kenapa mesti elevated di luar kota. Kecuali, kalau wilayahnya sudah betul-betul sangat padat. Itu berbeda," kritik JK.

Hal lain yang dipandang JK tak efisien adalah letak pembangunan rel, yang tepat di samping jalan tol Jakarta-Cikampek. Menurut dia, kereta ringan biasanya dibangun di lokasi berbeda, dengan infrastruktur perhubungan yang sudah ada. "Buat apa elevated, kalau hanya berada di samping jalan tol? Dan biasanya, LRT tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol. Harus terpisah," bebernya.

JK menegaskan, berbagai inefisiensi itu membuat biaya pembangunan melambung tinggi. Hingga mencapai Rp 500 miliar per kilometer. Adhi Karya diperkirakan, akan sulit mengembalikan modal investasi. JK pun mempertanyakan kecakapan konsultan yang merancang proyek. "Siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya Rp 500 miliar per kilometer? Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?" keluhnya.

JK membandingkan pembangunan MRT yang hanya menghabiskan Rp 331 miliar per km. Sampai di sini, kekesalan JK seperti memuncak. Bicaranya makin cepat dan keras. Tangannya juga bergerak-gerak, menunjuk ke kanan dan kiri. Jelas sekali Pak JK sedang emosi. Mereka yang hadir di acara ini pun terdiam. Tak ada yang berani bersuara mendengar JK marah. Ngeri.

Untuk diketahui, total anggaran proyek LRT Jabodebek sebesar Rp 29,9 triliun. Proyek ini terdiri dari sarana, prasarana, dan IDC (Interest During Construction). Dalam pembiayaan proyek ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) urunan Rp 25,7 triliun. Sedangkan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, menanggung biaya Rp 4,2 triliun.

Presiden Jokowi meresmikan dimulainya percepatan pembangunan LRT tahap pertama di Gerbang Tol Taman Mini, Jakarta Timur, September 2015. Direktur Utama PT LRT Jakarta Allan Tandiono, mengakui kehadiran LRT belum maksimal membantu mengurangi kemacetan. Sebab, saat ini koridor I LRT yang baru akan beroperasi masih minim. Hanya 5,8 km dengan rute Velodrome-Kelapa Gading.

"LRT dihadapkan dengan permasalahan integrasi antar moda transportasi umum yang belum lengkap. Problemnya,  jaringan masih belum komplit dan integrasinya masih belum optimal," beber Allan saat ditemui di Stasiun LRT Velodrome, Jumat (11/1).

Allan menyebut, LRT baru bisa efektif membantu mengurangi kemacetan, jika koridornya telah dibangun sempurna sepanjang 116 km mengelilingi Jakarta. Namun, Allan belum bisa memastikan kapan perluasan koridor akan dilakukan, agar pengoperasian LRT bisa berjalan maksimal mengurai kemacetan. [OKT]

RM Video